Selasa, 26 November 2013

Catatan Pementasan Komedi Tunggal Iwel Sastra

Foto : ET Hadi Saputra
Di penghujung tahun 1997 saya memutuskan untuk solo karir di dunia lawak Indonesia. Keinginan ini muncul karena dari tahun 1989 hingga 1997 saya selalu gagal membentuk grup lawak. Penyebab kegagalan ini lebih sering disebabkan karena perbedaan fokus antara saya dengan rekan. Saya fokus ingin menjadikan pelawak sebagai profesi, sedangkan teman-teman lebih banyak yang menjadikan ini sebagai kerjaan sampingan. Ini berdampak kepada komitmen ketika latihan dan menerima tawaran manggung.

Terakhir tahun 1997 saya sempat satu grup dengan Tukul Arwana, bahkan kami sempat tampil dalam program Opera Sabun Mandi yang ditayangkan SCTV sebanyak 26 episode. Saya berpisah dengan mas Tukul bukan karena perbedaan prinsip, melainkan karena kesempatan yang hinggap pada mas Tukul. Pasca membintangi video klip Joshua, tawaran demi tawaran berdatangan untuk mas Tukul. Saya tentu tidak mau menghalangi rezeki mas Tukul.

Saya sempat berpikir untuk meninggalkan dunia lawak untuk mulai meniti karir sebagai pengacara atau pengusaha. Keinginan ini saya urungkan ketika saya dipenghujung tahun 1997 saya menyaksikan sitkom Seinfeld dan film dokumenter yang memperlihatkan Bob Hope sedang menghibur tentara Amerika yang sedang bertugas di Vietnam. Saya kemudian memutuskan untuk mencoba solo karir.

Tahun 1998 saya bercerita kepada sahabat saya Diaz Hendropriyono keinginan saya untuk fokus meniti karir seperti pelawak Amerika Jerry Seinfeld dan Bob Hope. Diaz memberi tahu saya bahwa di Amerika itu disebut stand up comedy. Jadilah sejak saat itu saya mulai memproklamirkan diri sebagai stand up comedian. Diaz yang sekolah di Amerika ini pulalah yang kemudian mengirimkan saya berbagai VCD penampilam stand up comedian Amerika. Saya kemudian mulai mempelajari stand up comedy yang ternyata mempunyai aturan-aturan tersendiri.

Setelah enam tahun berjuang mempopulerkan stand up comedy, 6 Maret 2004 saya mengadakan pementasan stand up comedy pertama Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan ini mendapat pemberitaan yang positif dari berbagai media. Perlahan masyarakat Indonesia mulai mengenal stand up comedy.

Stand up comedy sendiri kemudian semakin popular tahun 2011 seiirng dengan berkembangnya sosial media seperti youtube dan twitter. Saya menilai kedua sosial media ini berperan dalam membuat stand up comedy bisa lebih mudah dikenal masyakarat. Ditambah Metro TV dan Kompas TV kemudian menayangkan program stand up comedy.

Seiring dengan semakin populernya stand up comedy, tahun 2012 yang lalu saya sebenarnya ingin mengadakan kembali show tunggal stand up comedy. Niat ini tertunda karena saya sedang fokus menyelesaikan buku perdana saya Motivaction: Mimpi atau Mati! yang kemudian diterbitkan Noura Books pada Mei 2013.

Seiring dengan terbitnya buku tersebut saya mulai memperkenalkan stand up motivation yaitu menggabungkan stand up comedy dan motivasi. Efek buku ini sangat luar biasa, saya banyak memenuhi undangan sebagai stand up motivator. Sehingga rencana untuk pementasan tunggal stand up comedy kembali tertunda.

September 2013 saya bulatkan niat saya bahwa sebelum tahun 2013 berakhir, saya sudah melakukan pementasan tunggal stand up comedy. Saya kemudian berpikir, kalau saya hanya menampilkan stand up comedy maka tidak ada sesuatu yang baru ditampilkan. Selama tahun 2011 hingga 2013 sudah banyak stand up comedian Indonesia yang melakukan pertunjukan tunggal.

Saya teringat DVD ventriloquist Jeff Dunham yang diberikan Fandy Begenk kepada saya pada bulan Agustus 2013. Kebetulan saya lagi senang-senangnya dengan ventriloquist yang merupakan seni suara perut yang biasanya menggunakan boneka. Saya sendiri sewaktu kecil sangat suka dengan boneka Tongki-nya Gatot Sunyoto. Muncul ide untuk menggabungkan stand up comedy dengan ventriloquist. Supaya pembukaan show menarik maka saya punya ide untuk membuka acara dengan musik humor.

Mulailah saya bergerak untuk menghubungi tempat. Pilihannya adalah Taman Ismail Marzuki Jakarta. Saya memilih Taman Ismail Marzuki karena tahun 2004 saya sudah melakukan pementasan di Gedung Kesenian Jakarta. Alasan lain bahwa yang saya tampilan ini bukan sekedar tontonan tapi merupakan sebuah seni komedi.

Alhamdulillah masih tersedia jadwal kosong di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki untuk tanggal 23 November 2013. Saya punya waktu sekitar dua bulan untuk persiapan. Saya pun mulai mencari orang yang bisa membuatkan boneka ventriloquy di Indonesia. Roni Yuzirman pendiri komunitas tangan di atas memperkenalkan saya dengan Anang Sujana pemilik pabrik boneka. Setelah melalui proses pertemuan beberapa kali dengan pak Anang akhirnya boneka ventriloquy yang saya beri nama Lewi jadi.

Persiapan selanjutnya adalah saya harus bisa memainkan boneka ventriloquy dengan baik. Kemampuan suara perut, akting, kemahiran menghidupankan boneka serta penguasaan materi humor menjadi suatu bagian yang utuh dalam memainkan ventriloquy. Saya pelajari semuanya melalui youtube dan DVD Jeff Dunham. Sembari itu saya juga menulis materi stand up comedy dan mempelajari lagu Superman yang dipopulerkan oleh Benyamin S.

Pementasan ini penuh tantangan, semangat yang berkorbar dalam jiwa didukung oleh passion yang tinggi dalam berkomedi membuat saya melakukan semuanya dengan senang hati. Saya sebut penuh tantangan, selain mempersiapkan isi acara saya juga harus mencari dana untuk pertunjukan ini, membentuk tim acara serta ikut  memikirkan strategi promosi untuk mendatangkan penonton.

Menjelang hari pertunjukan saya pun berbagi tugas dengan istri. Saya mulai fokus kepada manajemen show, istri fokus membenahi berbagai hal penunjang show. Ada juga beberapa kendala yang dihadapi menjelang hari pementasan, seperti crew pendukung yang nggak bisa hadir pada saat gladi resik karena memiliki kesibukan ditempat lain. Untunglah pihak Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki mendukung penuh acara ini dengan mengerahkan crew Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki untuk membantu keperluan kami seperti artistik, pencahayaan dan tata suara.

Hari pertunjukan pun datang. Diluar dugaan saya penonton yang hadir tidak sebanyak yang diharapkan. Apapun yang terjadi, sedikit atau banyak penonton saya harus tampil maksimal. Melucu dihadapan penonton yang jumlahnya sedikit memiliki tantangan yang berat. Itu harus saya hadapi.
Setelah pukulan gong ketiga, layar pertunjukan dibuka. Saya memulai pertunjukan dengan ngerap berbahasa Inggris yang kemudian diplesetkan menjadi lagu begadangnya Rhoma Irama. Saya pun kemudian mulai menyapa penonton dan mulai menceritakan pengalaman saya merintis karir sebagai pelawak dengan gaya jenaka. Kemudian saya lanjutkan dengan menyanyikan lagu Superman yang dipopulerkan oleh Benyamin S.

Saya menutup sesi pertama ini dengan sebuah anekdot dari almarhum Gus Dur. Kemudian saya silam ke belakang panggung untuk ganti baju. Di panggung penonton melihat adegan dalam bentuk siluet yang memperlihatkan seorang perempuan sedang berganti kostum. Disinilah komedinya, saya yang ganti kostum tapi yang muncul siluet perempuan.

Setelah berganti kostum, saya muncul kembali diatas panggung. Saya memainkan stand up comedy  dengan membahas tentang kebiasaan saya suka membaca, rencana pembangunan subway di Jakarta, teknologi telepon genggang, Jakarta sebagai kota dengan mal terbanyak, korupsi serta persoalan aktual lainnya.

Kemudian untuk sesi terakhir saya memperkenalkan boneka ventriloquy Lewi. Pada sesi ini saya ngelawak berdua dengan Lewi. Alhamdulillah sambutan penonton sangat luar biasa menyaksikan saya dengan Lewi membahas beberapa permasalahan, seperti penyadapan telepon Presiden SBY, rencana Jokowi maju sebagai presiden hingga persoalan para Jomblo.

Menjelang pukul 22.00 saya mengakhiri pertunjukan yang berlangsung hampir 2 jam.

Minggu, 24 November 2013

Pertunjukan Komedi Tunggal Iwel Sastra, Menggabungkan Stand Up Comedy Dan Ventriloquist

Komedian Iwel Sastra mengadakan pertunjukan komedi tunggal One Stop Comedy : Bersatu Kita Lucu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Sabtu 23 November 2013 yang lalu. Pertunjukan berdurasi hampir 2 jam ini mendapatkan sambutan positif dari penonton yang dibuat tertawa oleh Iwel selama pertunjukan.

Iwel pernah mencatat sejarah dalam dunia komedi Indonesia dengan mengadakan pementasan Stand Up Comedy pertama Indonesia yang diadakan pada 6 Maret 2004. Ini pulalah yang membuat Iwel mendapat julukan sebagai pelopor stand up comedy Indonesia.

Sembilan tahun setelah pertunjukan tunggal pertamanya, Iwel kembali mengadakan pertunjukan tunggal. Kali ini Iwel menggabungkan musik humor, stand up comedy dan ventriloquist (seni suara perut yang biasanya menggunakan boneka). Setelah Stand Up Comedy populer di Indonesia, Iwel berharap Ventriloquist segera ikut populer di Indonesia. Tantangan menjadi Ventriloquist adalah menggabungkan kemampuan akting, suara perut dan meramu materi lawakan bersama boneka.

TEMPO/Charisma Adristy

TEMPO/Charisma Adristy

TEMPO/Charisma Adristy

TEMPO/Charisma Adristy
inilah.com/Eusebio Chrysnamurti

inilah.com/Eusebio Chrysnamurti

inilah.com/Eusebio Chrysnamurti
                                
inilah.com/Eusebio Chrysnamurti
Link berita 
http://www.tempo.co/read/beritafoto/11594/Iwel-Beraksi--Stand-Up-Comedy-dengan-Suara-Perut
http://artis.inilah.com/read/detail/2050185/sukses-pentas-komedi-tunggal-iwel-sastra#.UpKxWid6ikw