Amati
hiruk pikuk Formula 1, di mana hanya 10 tim dan 20 pembalap terbaik dunia
(segera 11 tim dan 22 pembalap di tahun 2026 dengan kedatangan Cadillac) yang
berhak berkompetisi. Persaingan yang sangat ketat ini telah menginspirasi saya
untuk melahirkan "F1 Theory" yang
bisa diterapkan dalam perjalanan karir. Teori ini saya gunakan untuk bisa
bertahan dalam karir dan dunia pekerjaan saya yang sangat ketat kompetisinya.
Sekarang
saya ingin membagi teori ini kepada pembaca agar bisa menjadi filosofi dalam
berkarir maupun berbisnis. Dalam teori ini, seseorang membayangkan diri sebagai
salah satu pembalap di grid F1. Tujuannya sangat
jelas dan krusial: bertahan di level tertinggi—menghindari degradasi ke
"F2" apalagi "F3". Ini diterjemahkan menjadi keharusan untuk
selalu relevan, memiliki tempat, dan diakui dalam industri atau bidang
profesional yang digeluti.
Inti
dari "F1 Theory" adalah konsistensi dan bertahan dalam persaingan
yang ada. Di awal, mungkin seseorang berada di posisi 20, sesekali menyusul dan
mencuri posisi ke 19, 18, atau 17. Fokus utamanya adalah menjaga kursi di
"tim F1" dan menghindari terlempar keluar dari persaingan. Ini adalah
fase survival yang menuntut ketahanan
mental dan ketekunan. Sama seperti pembalap harus menyelesaikan balapan, profesional
harus memastikan bahwa semua proyek dan tugas diselesaikan dengan standar
terbaik yang tersedia saat ini.
Selagi
mempertahankan posisi, fokus selanjutnya adalah pengembangan berkelanjutan dan
peningkatan performa "mobil". Mirip dengan pembalap yang bekerja sama
dengan tim teknis, profesional yang menerapkan teori ini terus memperbaiki
"skill mengemudi" (kompetensi inti), mengasah strategi (perencanaan
karir), dan yang paling penting, meningkatkan value dan branding diri (performa mobil).
Peningkatan ini melibatkan "penyesuaian aerodinamika dan mekanikal,"
yang berarti adaptasi cepat terhadap tren pasar, penyesuaian gaya kerja, serta
pengembangan "komponen baru"—yaitu skill dan sertifikasi yang
menambah daya saing di tengah lintasan karir.
Tentu, menjaga posisi dan
meningkatkan performa adalah fondasi, namun "F1 Theory" tidak
berhenti di sana; ia diimbangi dengan mindset seorang juara. Sambil bertahan
dan memperbaiki diri di barisan belakang, disertakan keyakinan bahwa kemampuan
akan meningkat untuk merangkak maju, masuk ke 10 besar, lalu 5 besar, dan
akhirnya bersaing di 3 besar. Ini adalah teori yang berhasil menggabungkan
realisme (bertahan di persaingan saat ini) dengan ambisi tertinggi (mengejar
podium di masa depan).
Instagram @iwelsastraofficial






