Kamis, 09 April 2015

Belajar Bahagia dari Seorang Gadis Kecil

Gadis kecil dalam foto ini adalah anak saya. Namanya Kayra. Saat foto ini diambil, umurnya belum genap 5 tahun. Saya sangat suka foto ini. Bukan semata-mata karena ini adalah foto anak saya. Akan tetapi karena ada hal yang begitu menonjol dari Kayra dalam foto ini yang juga ingin saya bagi kepada teman-teman semua.

Foto ini diambil saat Kayra menari-nari girang karena berhasil menyelesaikan mainan puzzle barunya yang ia genggam di tangan kiri. Tangan kanannya mengepal mengekspresikan kebahagiaan karena ia sukses mengerjakan teka-teki dari mainannya itu. Matanya berbinar. Bibirnya tersenyum dan membuka lebar sebagai ekspresi kegembiraan dan keceriaan. Kebahagiaan tepancar dari wajahnya.

Kapan terakhir Anda merasa bahagia? Saat itu, apa yang membuat Anda merasa bahagia? Kadang sebagai orang dewasa kita lebih sulit bahagia. Sebaliknya Kayra, sangat mudah menemukan alasan untuk berbahagia. Saat bangun tidur ia tersenyum karena mimpi bermain dengan ikan mas peliharaannya yang baru saja mati 3 hari lalu. Kayra bahagia berangkat ke sekolah karena di sekolah ia bisa bermain dengan teman-temannya. Pulang sekolah ia bahagia karena masih punya sisa bekal sepotong roti selai coklat untuk dimakan di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Sungguh betapa sederhananya kebahagiaan untuk Kayra.

Sehari-hari bibir mungil Kayra lebih sering tersenyum dan tertawa. Ia juga suka sekali bersenandung. Saya perhatikan, dengan merasa mudah untuk berbahagia Kayra jarang sekali menangis atau rewel. Kalaupun ia merasa marah atau kecewa terhadap suatu hal pasti tidak akan pernah bertahan lama. Perasaan senang juga membuatnya mampu dengan mudah menyelesaikan beragam aktivitas yang terkait dengan pelajaran di sekolahnya.

Mainan puzzle yang sulit pun tidak pernah ia katakan sulit. "I just haven't found the way to solve it right now," ujarnya ringan dengan bahasa inggris cadel khas anak-anak saat saya tanya soal puzzle barunya yang saya anggap sulit untuk diselesaikan oleh anak seumur Kayra.

Melihat Kayra, ada beberapa hal yang saya pelajari. Pertama, jadikanlah bahagia sebagai suatu kebiasaan. Jika bahagia kita jadikan kebiasaan maka ia akan melekat dalam keseharian kita, melekat dalam mindset kita sehingga menjadi bagian dari sifat dan diri kita. 

Kedua, kita bisa membangun kebiasaan untuk berbahagia dengan cara melihat beragam hal kecil yang terjadi sebagai penyebab atau alasan kita untuk berbahagia. Misalnya, pagi ini Anda memutuskan ambil rute lain untuk pergi ke kantor dan ternyata tidak macet. Berbahagialah untuk itu. Saat jam istirahat di kantor Anda memiliki kesempatan menelepon pasangan dan bercakap-cakap mesra. Berbahagialah untuk itu. Nilailah semua peristiwa kecil semacam itu sebagai penyebab kebahagiaan.

Ketiga, saat Anda menemukan penyebab atau alasan untuk berbahagia, ajak tubuh untuk berbahagia bersama Anda. Tersenyumlah, belalakkan mata Anda sehingga ia menjadi berbinar, senandungkan rasa senang Anda, kepalkan tangan kemudian tarik ke bawah sambil berkata yess! Atau lakukan beragam cara lain untuk mengekspresikan kebahagiaan Anda. Dengan begitu, tubuh Anda mendukung dan bersinergi dengan alam pikiran sehingga membentuk diri Anda yang bahagia. Hal ini akan memengaruhi gestur, ekspresi wajah dan perilaku keseharian Anda. Kalau ini dilakukan terus menerus tubuh dan pikiran akan kompak berubah, menjadi kebiasaan sehingga muncul diri Anda yang baru. Anda dalam versi yang lebih ceria.

Keempat, saat menemukan kesulitan jangan menganggapnya sebagai kesulitan. Seperti Kayra yang belum bisa menyelesaikan puzzle, just give yourself a time to think and to find the solution. Masalah yang Anda hadapi tidaklah sulit, Anda hanya belum menemukan carauntuk memecahkannya. Jadi yang diperlukan hanya waktu. Dengan memakai pola pikir ini, Andq akan tetap bisa tenang dalam menghadapi masalah. Tenang membuat Anda bisa berpikir jernih untuk menemukan solusinya dengan cepat.

Jadi, berhenti menunda kebahagiaan melanda diri Anda. Anda memiliki hak untuk berbahagia sekarang juga!

Minggu, 05 April 2015

Doa Dalam Personal Branding


Suatu siang di tahun 1997 saya menemukan sebuah KTP yang tergeletak di meja ruang tamu. Saya membaca nama pemilik KTP tersebut tertulis Riyanto. Saya bingung kenapa KTP Riyanto bisa ada meja ruang tamu. Setelah saya melihat foto pemilik KTP tersebut saya ngakak.  Saya sangat kenal dengan wajah yang ada di KTP tersebut yang selama ini saya panggil dengan mas Tukul. KTP ditangan saya milik Tukul Arwana yang kemudian hari sangat terkenal dengan wajah ndeso dan katronya tersebut.
 
Selain Tukul Arwana yang berkibar dengan nama panggung ada juga pelawak Tarsan yang  memiliki nama asli Toto Maryadi.  Penyanyi Ikke Nurjana memiliki nama  asli Hartini Erpi Nurjanah. Kalau mendengar nama Raden Terry Tantri Wulansari anda sepertinya sangat asing dengan nama tersebut. Apabila disebut nama panggungnya Mulan Jameela tentu anda akan sangat familiar dengan mantan personil Ratu ini.

Tulisan diatas saya kutip dari buku saya yang berjudul “Motivaction, Mimpi atau Mati!” untuk menggambarkan bahwa bukan hanya produk yang memerlukan nama yang menjual dan mudah untuk diingat namun kalangan selebritas pun perlu untuk mengubah nama mereka yang diyakinim memiliki nilai jual.

Nama lahir saya Welnaldi Sastra namun di ijazah dan KTP hingga sekarang ditulis hanya Welnaldi. Sejak SMP dipanggil dengan nama Iwel. Tahun 1993 ketika saya menjadi penyiar radio DMC 1079 FM Jakarta, atasan saya Sys NS mengusulkan agar saya menggunakan nama Iwel Well (dua L) ketika siaran. Alasannya agar gampang diingat. 

Tahun 2005 ketika tampil sebagai Stand Up Comedian di acara Bincang Bintang RCTI, Indra Yudhistira GM Produksi RCTI mengusulkan agar saya menggunakan nama Iwel saja. Alasannya nama Iwel Well terlalu "komik" dan mengada-ada. Tidak cocok untuk seorang Stand Up Comedian. Contohnya nama-nama Stand Up Comedian Amerika relatif keren-keren, sebut saja : Jay Leno, David Letterman, Jerry Seinfeld, Steve Martin, dll. 

Tahun 2006 ketika bergabung dengan Republik Mimpi (Newsdotcom), Effendi Gazali mengusulkan agar saya menggunakan nama Iwel Wel ( satu L) alasannya nama itu sudah pernah melekat dihati sebagian orang, baik ketika saya menjadi penyiar radio atau pun sebagai pemeran pembantu di sinetron Donna Sang Penyamar (ANTV - 1996), walau sesaat sinetron ini sempat jadi perbincangan dikalangan anak muda. 

Juni 2010, istri saya menyarankan saya untuk kembali menggunakan nama belakang pemberian orang tua saya "Sastra"  Ini untuk menekankan bahwa misi saya sebagai komedian bukan sekadar tampil lucu tapi untuk menghibur dan mencerahkan. Apalagi ketika saya mulai menekuni dunia motivasi dan training, nama ini bisa mewakili sosok saya sebagai motivator dan trainer yang selalu membawakan materi mencerahkan, inspiratif, aplikatif dengan gaya humor.

Bagi saya menggunakan nama panggung ini bukan sekedar menggunakan. Sama halnya ketika Riyanto menggunakan nama Tukul Arwana itu bukan sekedar pemilihan nama yang lucu tapi ada doa di dalamnya. Tukul berarti tumbuh sedangkan Arwana adalah nama ikan yang saat itu masuk dalam kategori ikan mahal. Riyanto berharap dia bisa tumbuh menjadi komedian yang mahal. Doa yang terbukti terkabul.

Sekarang saya menggunakan nama Iwel Sastra yang mengandung arti Insan Baik (Wel) yang Sehat, Sukses dan Sejahtera. Saya menyimpulkan bahwa nama yang merupakan bagian personal branding bukan sekadar nama komersil tapi sebaiknya mengandung doa. 

Walaupun Shakespeare mengatakan "apalah artinya sebuah nama" saya tidak percaya dengan ungkapan Shakespeare karena kebanyakan karya-karya Shakespeare menggunakan nama sebagai judul. Seperti, Romeo & Julliet, Othello, Macbeth, Hamlet, Raja Lear, Julius caesar, Troilus dan Cressida, dll. Kalau nama tidak begitu penting kenapa dia tidak memberikan judul karyanya "anu, anu dan anu, raja anu".

Selasa, 31 Maret 2015

Tips Public Speaking : 3 Hal Yang Harus Dikuasai Pembicara

Secara mendasar ada tiga hal yang sebaiknya dikuasai oleh pembicara atau trainer ketika tampil dihadapan audience. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Kuasai ruangan. Ini bukan berarti Anda menguasai ruangan dalam arti harus memiliki ruangan tersebut, he he he. Kuasai ruangan artinya Anda sangat paham dengan situasi diruangan tersebut. Seperti posisi panggung, kualitas pengeras suara, posisi duduk audience. Termasuk Anda sebaiknya mengetahui ruangan tersebut nyaman atau tidak. Bisa jadi AC ruangan tersebut tidak memadai sehingga banyak audience yang mulai gelisah karena kegerahan atau sebaliknya AC di ruangan tersebut terlalu dingin yang membuat frekuensi kebelet pipis audience meningkat. Anda akan kesulitan mengambil perhatian audience yang gelisah meskipun materi dan cara penyajian Anda sangat menarik.

2. Kuasa materi. Ini bagian yang sangat penting karena ketika Anda menjadi pembicara atau trainer yang dinantikan oleh audience Anda adalah materi yang akan disampaikan. Menguasai materi bukan hanya mengenai isi materi namun juga cara penyajian dan penyampaiannya. Pengusaan materi ini membuat Anda terlihat seperti ahli yang tentu saja bisa meyakinkan dan mempesona audience. Istilahnya MTP, materi tebar pesona, wk wk wk.

3. Kuasai audience. Begitu Anda sudah menguasai ruangan dan menguasai materi maka Anda akan mudah menguasai audience. Mereka akan menikmati kata demi kata yang keluar dari mulut Anda. Bahkan mereka merasa rugi berpaling walau hanya sedetik saja karena takut kehilangan poin-poin penting. Mereka menahan diri untuk menoleh ke gadget mereka walaupun ada pesan mesra dari pasangannya, hi hi hi. Namun jika audience lebih sering menoleh ke gadget mereka daripada memperhatikan Anda berarti sebagai pembicara atau trainer Anda telah gagal menguasai audience.

Iwel Sastra
Stand Up Motivator No1 Indonesia - Professional Corporate Trainer - Pelopor Stand Up Comedy Indonesia

Senin, 30 Maret 2015

Menjadi Bos Yang Menyenangkan

Melalui akun twitternya, rekan saya Prasetya M Brata yang dikenal sebagai meta coach dan penulis buku Provokasi menulis, NLP mengajarkan ‘scramble technique’. Ini adalah teknik ketika ada seorang bawahan sedang dimarahi bos, untuk menghilangkan rasa bete maka ia membuat wajah dan suara bosnya seperti badut sehingga terlihat lucu. Menurut Prasetya, mengubah wajah atasan menjadi seperti badut dan suaranya menjadi seperti Donald Bebek, agar kita tidak bete pada atasan yang sedang marah itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Saya setuju dengan pernyataan Prasetya. Namun sebagai atasan Anda juga harus menutup celah agar tidak mendapat perlakuan demikian dari anak buah. Anda merasa sudah seperti Donald Trump tapi di mata anak buah, Anda seperti Donald Bebek. Ini menunjukan, meskipun berhadapan dan saling bertatap muka tetapi sesungguhnya wibawa Anda sebagai atasan sudah hilang di hadapan anak buah. Bawahan menghadap Anda lebih karena keterpaksaan dan tidak memiliki pilihan lain disebabkan hierarki posisi mengharuskan dia mematuhi panggilan Anda. Kalau menurut ahli fashion atasan dan bawahan ini saling melengkapi. Pakai atasan tapi tidak pakai bawahan maka Anda akan menjadi pusat perhatian di keramaian, he he he.

Tidak ada salahnya Anda mulai berpikir untuk menjadi bos yang menyenangkan. Menjadi bos yang menyenangkan akan memberikan keuntungan buat Anda pribadi, bawahan dan perusahaan. Menjadi bos yang menyenangkan sama sekali bukan hal sulit. Kita hanya perlu mengetahui dan memahami hal yang ditakuti oleh bawahan terhadap atasannya. Secara garis besar ada dua hal yang ditakuti bawahan terhadap atasan, yaitu tugas yang diberikan dan respon terhadap tugas yang dikerjakan.

Berdasarkan dua hal ini, saya berikan tips sederhana tapi memiliki kekuatan besar yang bisa menjadikan Anda bos yang menyenangkan.

Pertama, memberikan tugas dengan pengertian. Kata ‘pengertian’ sering kita dengar sebagai syarat keharmonisan sebuah hubungan. Dalam konteks hubungan antara atasan dengan bawahan, pengertian ditampakkan saat seorang atasan memberi tugas pada bawahan. Pengertian disini bukan berarti atasan membatasi diri dalam memberikan tugas pada bawahan. Memberikan tugas dengan pengertian memiliki makna, ketika sebuah tugas yang diberikan berat maka saat memberikan tugas itu Anda sebagai atasan memperlihatkan empati. Hal ini menunjukkan pada bawahan bahwa Anda sebagai atasan juga memahami tugas yang diberikan memang berat. Saat memberikan tugas yang berat itu posisikanlah diri Anda sebagai bawahan.

Seringkali seorang atasan justru bersikap sebaliknya. Memberikan tugas yang berat tanpa beban. Seolah-olah bahwa bebannya sebagai atasan telah berpindah pada bawahannya sehingga selanjutnya bawahanlah yang harus memikirkan cara menanggung beban tugas tersebut. Dengan menunjukan pengertian dan rasa empati maka bawahan yang menerima tugas akan merasa tidak sendiri sehingga beban yang dipikulnya terasa ringan. Ini tentu menjadi semacam kekuatan baginya untuk bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.

Kedua, memberikan penilaian dengan energi positif Seringkali ketika memberikan penilaian terhadap kinerja bawahan, seorang atasan mengenyampingkan hal-hal positif yang ada pada bawahannya. Hal ini tentu menimbulkan rasa tidak puas bawahan terhadap atasan. Bawahan merasa diperlakukan tidak adil karena yang dilihat hanya kekurangannya saja. Memberikan penilaian dengan energi positif terletak pada cara Anda memilih kalimat. Anda bisa saja sedang mengkritik bawahan tetapi menggunakan kalimat bermakna positif yang sifatnya ‘encouragement’.

Contoh kalimat yang memberikan penilaian dengan energi positif adalah, “sayang sekali kalau kamu hanya mencapai target seperti ini padahal kamu pintar” atau “kamu terlalu cepat menyerah sehingga pekerjaanmu tidak maksimal, padahal saya tahu kamu punya kekuatan yang luar biasa untuk tetap semangat mencapai hasil yang luar biasa.” Dengan memberikan energi positif, bawahan akan lebih mudah menerima kesalahannya karena ia merasa bahwa di mata atasannya sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk bisa menghindari kesalahan-kesalahan tersebut.

Ketiga, memberikan apresiasi dengan tulus. Meskipun hasil yang dicapai bawahan dalam mengerjakan tugas yang Anda berikan belum memuaskan, namun tidak ada salahnya Anda memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan. Apresiasi ini tidak harus dalam bentuk reward berupa hadiah atau kenaikan gaji karena bawahan memang belum layak mendapatkannya. Apresiasi ini bisa dalam bentuk ucapan seperti “saya senang kamu sudah mengerjakan” atau “saya sangat menghargai dan berterima kasih jika kamu mau memperbaiki laporan ini.”

Menjadi bos yang tegas tidak harus selalu galak. Menjadi bos yang tegas dan berwibawa di depan anak buah bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Apabila Anda bisa tampil sebagai bos yang menyenangkan maka dampak positif yang bisa dirasakan adalah:

1.  Bawahan selalu dengan senang hati bertemu dengan bos. 

Bagi mereka dipanggil bos bukanlah sebuah beban atau hal yang menakutkan melainkan sebuah hal yang menyenangkan bahkan ditunggu-tunggu. Bawahan merasa bahwa setiap kali bertemu dengan bos mereka selalu mendapatkan hal yang baru. Bawahan menyadari bahwa untuk bisa menjadi seorang karyawan yang baik harus terus memperbaiki diri dan mau mendengarkan arahan yang diberikan atasan. Mereka akan menyimak kata demi kata yang disampaikan atasan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian pesan dan keinginan atasan terhadap tugas yang diberikan dapat ditangkap dengan baik sehingga akan menghasilkan hasil yang baik.

2.  Bawahan mengerjakan tugasnya dengan gembira

Tugas-tugas yang diberikan oleh bos akan segera dikerjakan oleh bawahan dengan gembira. Mereka yakin apapun hasil yang mereka berikan, atasan pasti memberi apresiasi terhadap tugas yang telah dilaksanakan. Mereka merasa menjadi bagian dari tim yang turut memiliki peran penting dalam pencapaian target perusahaan. Mereka memberikan kemampuan terbaik yang dimiliki. Selain itu bekerja dengan gembira akan melahirkan energi positif yang mendorong lahirnya ide dan gagasan cemerlang. 

Lebih dari semua itu, bawahan akan menceritakan bosnya yang baik kepada rekan kerja, kepada rekan pergaulan, kepada keluarga atau kepada saja yang membuat dia merasa bangga untuk menceritakan tentang bosnya yang baik. Semakin sering orang lain menceritakan hal yang baik tentang kita maka energi positif akan terus mengalir kepada diri kita sehingga kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan. Kebaikan kita pun selalu dikenang meskipun nanti kita telah tiada. Seperti pepatah mengatakan harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Sebaik-baiknya nama tentulah nama baik.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Luar Biasa edisi November 2014

Minggu, 08 Maret 2015

Anti Personal Branding

Kafi Kurnia punya istilah Anti Marketing. Tulisan Anti Personal Branding terinspirasi dengan meme yang mengolok-ngolok Haji Lulung pada awal Maret 2015 pasca gagalnya mediasi antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan anggota DPRD. Sudut pandang saya agak berbeda dengan pakar brand lainnya. Saya menilai meme yang beredar mengenai Haji Lulung malah memberikan dampak positif pada Haji Lulung. Sekurangnya ada 2 hal dampak positif tersebut.

1. Memperkuat positioning Haji Lulung sebagai orang yang ditakuti. Sebelum menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, Haji Lulung sudah dikenal sebagai penguasa Tanah Abang. Meme yang beredar justru sebagai bentuk pengakuan bahwa Haji Lulung pantas menjadi penguasa Tanah Abang.

2. Meme di beberapa media sosial dan trending topik di twitter #SaveHajiLulung membuat Haji Lulung semakin populer. Orang yang tadinya tidak tahu Haji Lulung jadi penasaran ingin mengetahui sosoknya lebih jauh. Bahkan kemudian banyak media massa yang menulis profil Haji Lulung. Bahkan saya pun ikut menulis tentang Haji Lulung, Wk wk wk

Ini mungkin perlu penelitian yang mendalam. Saya sendiri juga heran kenapa orang yang di bully di twitter hanya menjadi bahan lelucon sesaat namun tidak berdampak negatif terhadap citra orang tersebut. Coba diingat kembali, dulu Aceng Fikri juga ramai di cemooh di twitter tapi tetap bisa terpilih sebagai anggota DPR-RI periode 2014 - 2019. Bang Haji Rhoma Irama juga pernah diolok-olok di media sosial tapi hingga sekarang bisa tetap eksis berkarir.

Menurut saya inilah yang disebut dengan Anti Personal Branding.

Selasa, 24 Februari 2015

3 Alasan Mempertahankan Blog Gratis

Seringkali saya mendapat pertanyaan "mas Iwel kenapa kok masih pakai blog gratisan. Sekarang kan bikin website sangat murah?"

Sebenarnya saya sudah punya website berbayar yaitu www.iwelsastra.com. Ada tiga alasan saya mempertahankan blog gratisan baik http://iwelwel.blogspot.com maupun http://iwelsastra.blogspot.com.

1. Saya sudah memiliki blog ini semenjak harga untuk membuat website masih mahal.
2. Blog gratisan ini meskipun gratisan tetap  memiliki kelebihan seperti ramah google. Tetap memiliki potensi untuk berada di halaman pertama google.
3. Ini yang paling penting yaitu saya memotivasi orang untuk memiliki blog agar mereka bisa mencurahkan semua ide-ide mereka ke dalam tulisan yang bisa memberikan manfaat bagi pembaca. Tak perlu gengsi memiliki blog gratisan. Selain itu blog gratisan bisa langsung dibuat dan caranya sangat mudah. Minimal website berbayar tetap ada proses yang dilakukan seperti membeli domain, menyewa hosting dan terkadang template-nya masih rumit bagi pemula.

Bahkan untuk mereka yang terjun ke bisnis online dengan modal terbatas blog gratisan tetap bisa menjadi pilihan dalam menjual produk maupun jasa. Meskipun dengan uang 500 ribu sekarang sudah bisa punya website tapi dalam bisnis itu tetap harus diperhitungkan sebagai modal.  Daripada tidak punya etalase online sama sekali blog gratisan bisa jadi pilihan.

Nanti kalau sudah rajin ngeblog atau usaha rasanya menunjukan kemajuan tentu bisa ditingkatkan dengan memiliki website berbayar.

Rumput Tetangga



Sewaktu saya dan istri ingin membeli rumah, saya bilang kepada istri bahwa saya tidak ingin punya tetangga yang halaman rumahnya ditanami rumput. Istri heran dengan alasan saya yang dianggapnya agak aneh. Saya bilang padanya, itu disebabkan saya tidak mau memandang rumput tetangga setiap hari kemudian merasa rumput tetangga lebih hijau. Istri saya tertawa mendengar alasan tersebut. Sampailah kami di sebuah perumahan yang semua halaman rumahnya tidak ditanami rumput. Pihak pemasaran perumahan menunjukan kami sebuah rumah yang sudah selesai dibangun dan siap untuk dihuni. Istri saya suka dengan rumah tersebut namun saya tidak. Istri saya kaget kemudian tertawa mendengar alasan saya tidak suka rumah yang itu. “Rumput tetangga memang tidak terlihat lebih hijau tapi garasi tetangga terlihat lebih besar” ucap saya pada istri.

Peribahasa yang menyebutkan rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri, terdengar seperti sebuah lelucon tetapi sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Peribahasa ini memiliki arti bahwa orang suka memandang hal yang dimiliki orang lain lebih baik daripada yang dia punya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang suka terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang kadang secara tidak sadar sudah menempatkan dirinya pada posisi yang menderita. Misalnya, yang belum punya pasangan pikirannya jadi galau melihat sepasang suami istri yang jalan berduaan dengan mesra. Pria yang sudah punya pasangan pikirannya galau melihat laki-laki jomblo yang bebas jalan sendirian tanpa harus dikenakan wajib lapor pada istri. Perempuan yang sudah punya pasangan, pikirannya galau melihat perempuan jomblo yang bisa jalan-jalan dengan bebas di mal tanpa harus ditelepon setiap saat oleh pasangan yang posesif.

Dari contoh diatas terlihat bahwa lebih hijau atau tidaknya rumput tetangga tergantung dari sudut pandang kita. Kita menganggap rumput tetangga lebih hijau bisa jadi tetangga juga berpikir rumput kita lebih hijau. Setiap orang memiliki persepsi masing-masing dari apa yang dia lihat. Persepsi inilah yang kemudian mempengaruhi pikiran. Jika kebahagiaan orang lain kita pandang dengan cara yang menyedihkan maka pikiran kita akan terbawa sedih. Jika kebahagiaan orang lain kita pandang dengan cara turut bahagia maka pikiran kita akan bahagia. Ketika melihat rumput tetangga lebih hijau kita ikut senang melihatnya, maka kita sudah membangun sebuah persepsi yang positif ke dalam pikiran. Bukannya iri atau dengki  melihat rumput tetangga yang lebih hijau kita bisa menyikapinya dengan rasa ikut memiliki. Namun ingat, meski ada rasa ikut memiliki, bukan berarti kita bisa memotong rumput tetangga kapanpun kita mau.

Dari berbagai artikel kesehatan yang pernah saya baca disebutkan bahwa salah satu sumber penyakit adalah pikiran. Sementara itu, pikiran sebenarnya ada dibawah kendali manusia. Jadi manusia memiliki peran yang sangat besar dalam mengelola pikirannya. Apakah mau menjadi susah atau senang. Ada anekdot yang menggambarkan bahwa betapa besarnya kekuatan pikiran mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. Anekdot ini bercerita tentang seorang pasien yang berobat ke rumah sakit. Seandainya perkiraan biaya perawatan disampaikan di depan, pasien ini akan kepikiran sehingga penyakitnya menjadi lebih parah. Kalau biaya perawatan disampaikan ketika sudah sembuh, pasien ini kaget membaca jumlah tagihan rumah sakit, akhirnya kepikiran kemudian jatuh sakit lagi.

Kembali ke soal rumput tetangga. Belajar dari peribahasa ini, kita  bisa menemukan 3 formula sederhana untuk bisa menjadi manusia yang bahagia. Formula pertama, jangan pernah menilai rumput tetangga. Ini formula ekstrim khusus bagi mereka yang benar-benar tidak tahan untuk tidak membanding-bandingkan rumput tetangga dengan rumputnya sendiri. Apalagi kalau dia sendiri tidak punya rumput. Seharusnya rumput yang hijau terlihat indah dan menyenangkan bagi mata tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mata selalu sakit ketika keluar rumah dan melihat rumput tetangga. Kalau sudah begini, sebaiknya jangan pernah menoleh atau bahkan hanya sekadar melirik ke rumput tetangga. Jadi mata akan terhindar dari rasa sakit akibat melihat rumput tetangga.

Formula kedua, nikmati saja rumput tetangga yang hijau. Ini yang disebut dengan membangun persepsi positif terhadap hal yang dimiliki orang lain tetapi tidak atau belum kita miliki. “Wah senangnya mendengar teman naik jabatan. Semoga dalam waktu cepat saya tertular.” Atau “wah senangnya melihat teman beli mobil mewah, semoga saya bisa segera menyusul.” Tentu saja, dalam membangun persepsi positif seperti ini, kita juga harus melihat situasi dan kondisi diri. Jangan sampai Anda yang sudah menikah, ketika menerima undangan resepsi pernikahan berkata “wah senangnya mendengar teman mau menikah, semoga saya bisa menyusul.” Kalau istri dengar, bisa terjadi perang dunia ketiga. Maksud hati mau bahagia, yang ada malah bonyok, wk wk wk. 

Formula ketiga, jadikan rumput tetangga yang hijau menjadi motivasi kita untuk memiliki rumput yang bahkan lebih hijau lagi. Kita harus membangun persepsi yang super positif sehingga yang timbul di pikiran kita ketika melihat milik orang lain yang tidak atau belum kita miliki bukan rasa galau. Kita harus bisa meyakinkan diri bahwa kita pun bisa memiliki semua itu. Caranya, kita cari bibit rumput yang terbaik, menamamnya dengan cara yang benar dan merawatnya dengan sabar. Kita senang, bahagia menjalani proses karena kita yakin tak lama lagi kita akan memiliki rumput yang lebih hijau daripada rumput tetangga. 

Pelajaran yang bisa kita peroleh dari rumput tetangga adalah menjadi bahagia itu tergantung dari persepsi kita ketika memandang sesuatu. Ketika kita ikut bahagia melihat rumput tetangga yang semakin hijau, maka kita sudah sukses membahagiakan diri sendiri walaupun belum memiliki rumput.


Tulisan ini dimuat di Majalah Luar Biasa edisi April 2013