Seorang teman komedian bertanya, apa saya sudah beralih dari komedian
menjadi motivator? Dalam dua tahun terakhir pertanyaan ini memang sering
saya dengar. Hal ini karena saya semakin sering diundang untuk
memberikan motivasi di berbagai perusahaan maupun untuk publik.
Sebenarnya saya tidak meninggalkan dunia komedi karena komedi adalah
dunia yang saya cintai sejak kecil. Kecintaan saya pada komedilah yang
mengantarkan saya dikenal sebagai pelopor stand up comedy di Inndonesia
dan tampil menjadi host di berbagai acara tivi.
Ada beberapa alasan kenapa kemudian saya lebih sering tampil sebagai
motivator. Pertama, saya melihat perkembangan dunia komedi di indonesia
bergeser dari dunia komedi yang saya impikan dulu saat masih kecil.
Acara lawak yang dulu ditampilkan TVRI menurut saya sangat menarik
karena pelawak-pelawak yang tampil, bukan sekadar tampil.
Pelawak jaman TVRI menurut saya adalah orang orang yang cerdas. Mereka
mempersiapkan penampilan mereka dengan baik sehingga selain kekuatan
improvisasi, kelucuan yang ada di atas panggung sudah direncanakan dan
dikemas dengan baik.
Di era awal tivi swasta, daya pikat komedi itu masih terlihat dari berbagai
program televisi seperti Lenong Rumpi, Keluarga Van Danoe dan Bagito
Show yang kemudian diikuti oleh kelahiran Patrio dengan Ngelaba dan
Cagur dengan Chatting. Bahkan, di tahun 1997 saya sempat memiliki
program Opera Sabun Mandi di SCTV yang menjadi momen kelahiran Tukul
sebagai komedian. Sayangnya, program lawak ini terpaksa berhenti karena
dihantam krisis moneter pada 1998.
Setelah era ini, terjadi pergeseran bentuk komedi di Indonesia. Stasiun
tivi mulai mengambil pelawak secara perorangan kemudian dikumpulkan
dalam sebuah program. Bahkan kemudian bermunculan artis-artis yang ikut
terjun menjadi komedian di program bentukan stasiun tivi tersebut. Ada
juga sih beberapa program ini bagus. Terutama yang memang dimainkan oleh
pelawak seperti Parto, Sule dan alm Jojon.
Namun di beberapa program yang disebut sebagai program komedi unggulan,
para pemainnya hanya mengandalkan improvisasi. Mereka saling teriak,
bersahutan, berjoget atau melakukan apapun dengan bebas tanpa konsep dan
tujuan yang jelas. Para insan kreatif televisi pun tampaknya sangat
suka membuat program seperti ini. Pertama karena mudah. Kedua karena didukung oleh Nielsen yang memberikan rating dan share tinggi terhadap program seperti itu.
Selain menonton lawak indonesia, waktu kecil saya juga suka nonton
komedi situasi Amerika seperti Perfect Stranger, The Cosby Show, hingga
Seinfeld. Di Amerika sendiri sitkom semacam ini tetap bertahan dengan
munculnya bintang-bintang baru seperti Everybody Loves Raymond, Friends,
dan Carmichael Show. Bahkan Amerika pun memproduksi banyak sekali
sitkom untuk anak-anak. Salah satu yang disukai anak saya adalah Nicky,
Rickey, Dickey & Dawn yang tayang di saluran Nicklelodeon.

Sementara di Indonesia, komedi situasi ini kurang bertahan walau sempat
ada Bajaj Bajuri dan OB. Trend program di televisi Indonesia pun sangat
ditentukan oleh Nielsen.
Kedua, saya sudah mulai menekuni stand up comedy sejak tahun 1998 dan
melakukan pementasan stand up comedy pada 6 Maret 2004 di Gedung
Kesenian Jakarta. Selain itu, sebelum stand up comedy menjadi trend di
tahun 2011, saya juga sudah sering tampil berstand up comedy di berbagai
acara baik di televisi melalui acara Bincang Bintang RCTI maupun
undangan berbagai perusahaan. Ketika stand up comedy menjadi trend dan
banyak komik baru bermunculan,saya tertarik untuk memulai sesuatu yang
lain.
Ketiga, Saya ingin menginspirasi banyak orang bahwa passion itu bisa
kita temukan kapan saja. Tidak harus sejak kecil. Seperti halnya ketika
saya bertemu Gede Prama di tahun 1999 yang membuat saya tertarik dengan
dunia motivasi. Namun saat itu saya menahan diri karena ingin fokus
menjadi stand up comedian. Di saat sekarang masyarakat sudah mengenal
saya sebagai stand up comedian barulah saya menekuni dunia motivasi
secara serius.

Terkait alasan ketiga, saya mempelajari beberapa selebriti Amerika.
Banyak selebriti Amerika yang memiliki beberapa skill sekaligus. Namun
mereka fokus menonjolkan hanya satu skill atau kebiasaan yang ingin
ditonjolkan sebagai personal brandingnya. Misalnya Jamie Foxx. Dia
adalah seorang penyanyi bersuara bagus, dan juga seorang stand up
comedian yang lucu dan brilian. Namun ia lebih ingin dikenal sebagi
aktor. Maka ia pun fokus menjalani dunia akting.
Mark Whalberg, dulu yang sempat dikenal sebagai rapper dengan nama
Markie Mark. Sekarang Whalberg mengubur nama itu karena ia ingin lebih
dikenal sebagai seorang aktor. Begitu pula halnya dengan Will Smith yang
dulu sempat ngehits sebagai rapper dengan nama The Fresh Prince.
Bersama DJ Jazzy Jeff, singlenya yang berjudul Boom Shakes the Room amat
populer & disukai. Sekarang Will Smith lebih dikenal sebagai aktor
walau sesekali ia masih ngeRap. Bahkan lagunya yang berjudul Gettin
Jiggy With It memenangkan Grammy Award di tahun 1999 untuk Best Rap Solo
Performance. Padahal di masa itu Will Smith sedang benar-benar naik
daun sebagai aktor Hollywood. Selain nama-nama diatas, banyak lagi
contoh lainnya.
Kembali ke saya, saat ini saya memang sedang fokus membangun personal
branding sebagai seorang komedian yang jago menginspirasi dan lebih
senang mendapat julukan sebagai pakar motivasi. Ini membuat orientasi
saya di industri televisi adalah bisa punya program inspiratif seperti
Oprah Winfrey dan tampil dalam film bernafaskan motivasi seperti film The Pursuit of Happiness, Life of PI, A Beautiful Mind dan The
Wolf of Wall Street.
Untuk menajamkan kemampuan saya sebagai pakar motivasi, disamping
didukung latar pendidikan S2 ilmu komunikasi dari FISIP UI, saya juga
terus meningkatkan kemampuan di bidang perubahan, leadearship, mindset,
teamwork, dan motivasi lainnya.
Tapi tentunya, sebagai motivator saya tetap menyertakan komedi dalam motivasi yang saya sampaikan.
Iwel Sastra
Komedian, Trainer & Motivator
Informasi training & motivasi : hubungi Cici 08176655874