Dalam obrolan santai saya dengan Sammy, maksud saya benar-benar santai karena ngobrolnya
sampe tiga jam lebih, saya bilang kalau saya merasa tidak
pernah ngebomb selama jadi comic. Saya hanya pernah salah pakai strategi
saat tampil.
Sammy, sahabat saya sesama comic yang juga mantan ketua StandUp Indo ini tidak sependapat dengan saya. "Kalo ngebomb ya ngebomb aja," katanya lugas.
Pendapat Sammy ini mengingatkan saya pada pendapat Steve Roye, seorang pelatih comic professional.
"No Matter what a comedian does in stage or their style in which they do
it, bombing is bombing and killing is killing," begitu tulis Roye di
website miliknya,
www.realfirststeps.com
Sebelum lanjut soal ngebomb, saya mau berbagi kisah Maroon 5 dulu ya.
Hari gini siapa yang ga kenal Maroon 5? Dimana pun Maroon 5 konser di
belahan bumi ini pasti penontonnya ribuan dan konser mereka jaminan
sukses.
Pada 9 Mei 2012, band pemenang Grammy Award ini dapat gigs di ballroom
sebuah resort mewah di Las Vegas. Mereka menjadi band yang membuka
sebuah acara amal bergengsi di Amerika. Keren? Pasti!
Tapi apa yang terjadi? Penampilan mereka disambut biasa saja. Ga ada
penonton yang berjubel di depan panggung yang semangat ikut nyanyi. Ga
ada teriakan histeris cewek-cewek manggil-manggil Adam Levine,
vokalisnya yang seksi itu. Ga ada tepuk tangan membahana apalagi
teriakan "we want more". Sepi, dingin, anyep.
Penonton yang ada saat itu hanya berusaha sopan dengan melihat ke arah
panggung sambil senyum-senyum. Tidak sedikit penonton yang tetap sibuk
dengan gadget masing-masing. Bahkan di antara penonton ada yang sambil
bercanda dan berbisik, mereka harus googling dulu untuk tahu siapa
sebenernya band yang sedang tampil.
Hampir menyerah menghadapi situasi ini, di panggung Adam Levine bercanda
ke pemain drumnya yang sampai jadi lemas memainkan drum karena situasi
yang kurang mengenakkan itu. Pada drummernya Levine bertanya, kemana nih
cewek-cewek malam ini? Kemudian terdengar sedikit teriakan. Menanggapi
teriakan itu Levine berkomentar, wah artinya memang lebih banyak cowok
disini malam ini. Bukan rasio yang bagus kata Levine lagi sambil tertawa
pahit.
Penonton di Las Vegas malam itu memang lebih banyak laki-laki. Rata-rata
mereka berprofesi sebagai pengelola investasi global yang secara usia
memang sudah matang kalau tidak mau dibilang tua. Sehari-hari mereka
menganalisis situasi makro ekonomi, geo politik dan mengelola aset
perusahaan dunia.
Kalau dalam istilah stand up comedy, apakah kita bisa menyebut Maroon 5
ngebomb? Kalau kita bilang Maroon 5 ngebomb, apakah itu artinya kita
lantas bisa dengan segera mencap mereka sebagai band yang jelek dengan
lagu-lagu yang jelek juga?
Sebagai seorang stand up comedian, apalagi kalau masih baru nyemplung
jangan pernah mengatakan kalau kita ngebomb saat tidak berhasil bikin
penonton tertawa. Jangan langsung memvonis diri sendiri bahwa kita
ngebomb karena itu sama saja kita membunuh motivasi diri kita sendiri.
Saya sempat baca curahan hati beberapa teman comic baik di twitter atau
di blognya yang merasa kariernya di stand up comedy hancur karena
ngebomb. Bahkan sampe ada yang galau bimbang dilema apakah harus terus
melakukan stand up atau sama sekali melupakan dan meninggalkan stand up
comedy hanya gara-gara ngebomb.
Saat naik panggung dan menghadapi audience, setidaknya ada dua hal yang
sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya penampilan kita. Pertama,
selera penonton. Sayangnya, agak sulit jika kita berharap bisa mengubah
selera penonton apalagi hanya dalam waktu sekejap penampilan kita.
Selera sifatnya sangat subyektif dan personal. Kalau sudah begini, tips
saya cuma satu. Tetap tenang, pakai kacamata kuda dan selesaikanlah gigs
dengan total sampai akhir.
Kedua, seperti yang juga dihadapi Maroon 5 dalam cerita diatas, adalah
soal referensi. Akan sangat sulit seorang comic melucu tentang suatu hal
yang tidak diketahui oleh penontonnya. Di kasus Maroon 5 di atas,
referensinya adalah maroon 5 sebagai artis dan lagu-lagu mereka. Dalam
kasus stand up comedy, referensi juga mencakup materi.
Misalnya, saya sangat sering menggunakan gaya topikal yang mengandalkan
berita di surat kabar atau media online sebagai set up. Bagaimana
penonton bisa tertawa jika mereka tidak tahu berita yang saya bawakan.
Ketidaktahuan ini tentu membuat penonton sulit memahami konteks dan
letak lucu dari jokes yang saya bawakan. Referensi juga misalnya, saya
membawakan jokes tentang peliknya kehidupan rumah tangga di depan para
jomblo.
Ada jurus dasar dalam ilmu public speaking yang sering diremehkan. Namun
dalam penampilan stand up, jurus ini harus dikuasai oleh seorang comic.
Jurus ini adalah "know your audience". Oleh karena artikel ini sudah
cukup panjang, di lain waktu saya akan mencoba membahas jurus ini di
artikel lain. Jurus ini memang kesannya remeh tapi banyak yang bisa
dikupas lebih dari sekadar mengetahui jenis kelamin dan pekerjaan
penonton kita.
Saya sendiri belum berhasil "pecah" kalau audience saya anak alay.
Padahal materi yang sama sudah saya uji coba di hadapan penonton mulai
dari bapak-bapak pejabat, ibu-ibu sosialita, komunitas entrepreneur,
profesional, karyawan, mahasiswa bahkan tukang parkir, satpam &
petugas kebersihan yang menegur saya di berbagai situasi.
Kira-kira kalimat-kalimat semacam ini yang sering dilontarkan ke saya.
"Wah saya suka sama lawakan bang iwel yang .... itu lucu banget tuh",
"Bisa aje nih bang iwel ngelucunye", "Mas iwel deh, lucunya tajem",
dalam hati saya berpikir... pisau kali ah tajem.
Kunci berhasil atau gagalnya penampilan seorang comic adalah memahami
audience. Caranya? sepuluh ribu jam terbang di panggung yang beragam.
open mic tiap minggu di tempat yang sama di depan teman-teman yang sama
yang jangan-jangan tidak lebih paham stand up comedy dari kita sendiri,
buat apa?
Untuk kasus tampil di depan anak alay akhirnya saya berpikir, mereka
bukanlah market saya. Untuk segmen seperti ini materi yang biasanya dianggap lucu jika
menjelekan diri sendiri atau orang lain. Jadi saya tidak merasa perlu mengubah gaya stand
up comedy saya yang sudah ajeg bentuknya.