Selasa, 17 November 2015

Stand Up Everywhere RCTI

Stand Up Everywhere RCTI
Jumat 13 November 2015 saya diundang RCTI untuk tampil sebagai stand up comedian dalam acara terbaru RCTI yang berjudul Stand Up Everywhere. Dalam setiap episodenya program ini menampilkan 3 orang stand up comedian yang melakukan stand up comedy di sebuah tempat yang belum mereka ketahui sebelumnya. Mata dan telinga ditutup ketika menuju lokasi dan baru dibuka saat sudah berada di tengah penonton. 

RCTI menggarap Stand Up Everywhere dengan konsep reality show. Dalam episode tersebut saya tampil bersama dua orang stand up comedian lulusan Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV yaitu David dan Abdur. Acara ini dipandu oleh Babe Cabita yang juga stand up comedian lulusan Stand Up Comedy Kompas TV. Saya dan rekan-rekan dalam episode tersebut kebagian melakukan stand up comedy dihadapan Walikota Jakarta Barat dan jajarannya sehabis melakukan senam pagi di halaman kantor Walikota Jakarta.

Senin malam 16 November 2015 saya menyaksikan program terbaru MNCTV berjudul Komika Vaganza. Dari segi format program ini sangat mirip dengan Stand Up Comedy Show Metro TV. Menampilkan beberapa stand up comedian yang tampil secara bergantian di hadapan penonton. Di segmen terakhir para stand up comedian ini tampil bareng membawakan gimmick yang melibatkan penonton di studio. Dari segi materi beberapa stand up comedian yang tampil masih memainkan materi yang sama ketika tampil di televisi lain. Bahkan sepertinya perlu didukung penambahan suara efek tertawa di mesin editing untuk menunjang penampilan pengisi acara.

Saat ini ada lima stasiun televisi yang telah memiliki program stand up comedy diantaranya Metro TV, Kompas TV, Indosiar, MNCTV dan RCTI. Menurut saya sukses Stand Up Comedy Academy Indosiar dalam perolehan rating dan share membuat MNCTV dan RCTI ikut menayangkan stand up comedy. Padahal gaung stand up comedy di televisi sudah dimulai semenjak tahun 2011. Mungkin karena yang baru berani menayangkan adalah tv berita dan tv berjaringan sehingga tv hiburan nasional memilih posisi wait and see. 

Dengan semakin banyaknya televisi menayangkan program stand up comedy menjadi kabar gembira sekaligus menuntut kewaspadaan dari para stand up comedian. Kabar gembira karena stand up comedy semakin populer di masyarakat. Kewaspadaan karena stand up comedian dituntut untuk bisa selalu memberikan yang terbaik untuk pemirsa. Apabila materi yang disajikan tidak ada perkembangan dan kedodoran karena frekuensi tampil yang semakin sering bisa membuat pemirsa cepat jenuh dan bosan. Bedanya penyanyi dan stand up comedian adalah jika penyanyi menyanyikan lagu yang sama setiap kali tampil di depan penonton yang sama, penonton semakin menikmati. Sedangkan stand up comedian setiap kali tampil dengan materi yang sama di depan penonton yang sama, penonton kecewa.

Senin, 16 November 2015

Mendeteksi Orientasi Kerja Karyawan

Dalam bekerja setiap karyawan punya target masing-masing. Ada yang ingin memiliki karir cemerlang hingga mencapai posisi puncak di perusahaan. Ada yang sekadar ingin bekerja supaya memiliki penghasilan rutin. Ada yang hanya menjadikan pekerjaannya sebagai transisi sampai mendapatkan kesempatan meraih keinginan terpendam seperti menjadi entrepreneur. Bahkan, ada yang bekerja karena memang harus bekerja karena kalau tidak akan mendapat status pengangguran. 

Perusahaan harus bisa mengetahui dan memahami orientasi setiap karyawan yang bekerja di lingkungan perusahaan. Ini sangat penting untuk membuat kinerja perusahaan menjadi sehat dan untuk seleksi dalam menempatkan orang yang tepat dalam posisi strategis. Sebagai motivator dan trainer saya sering mendengar keluhan beberapa perusahaan yang menggunakan jasa saya bahwa karyawan mereka kurang motivasi. Padahal sebenarnya karyawan ini bukan kurang motivasi tapi orientasi mereka bekerja sangat berbeda dengan visi dan misi perusahaan. 

Sebenarnya kalau perusahaan memiliki sistem penilaian kinerja terhadap karyawan yang baik maka orientasi karyawan dalam bekerja sudah bisa terdekteksi sejak awal. Selain mendeteksi, perusahaan juga sebaiknya memiliki sistem 'treatment' atau perlakuan jika ada karyawan yang terdeteksi memiliki orientasi bekerja tidak seperti yang diharapkan. Perusahaan tidak bisa mengandalkan pengakuan dari karyawan mengenai motivasi mereka karena biasanya mereka akan mengatakan bersedia bekerja keras, siap bekerja di bawah tekanan serta hal lain untuk mempertahankan pekerjaan mereka.

Cara sederhana untuk mengetahui orientasi karyawan adalah dengan melakukan teknik gali samping atas. Artinya, perusahaan bertanya pada rekan yang berada satu level dengan karyawan bersangkutan. Bagaiman penilaian rekan tersebut terhadap temannya, mulai dari sosoknya secara umum, cara dia menyelesaikan pekerjaan, sampai caranya mengisi waktu luang jika tidak ada pekerjaan. Kemudian gali ke atas. Tanyakan penilaian dari atasan yang berada persis diatasnya. Bisa jadi atasan langsungnya malah selama ini juga tidak peduli dengan bawahannya. 

Agar bisa mencapai target, perusahaan harus bisa membangun tim hebat yang memiliki visi. Untuk itu mulailah dengan melakukan seleksi orientasi kerja masing-masing individu yang merupakan penyangga utama kekuatan tim.

follow @iwelsastra19

Minggu, 15 November 2015

Forum Motivasi Iwel Sastra

Selain menekuni dunia lawak dan stand up comedy, beberapa tahun terakhir saya serius menekuni dunia motivasi. Namun bukan berarti saya meninggalkan dunia stand up comedy. Saya mengolah , materi motivasi dan jokes ala stand up comedy menjadi sebuah paduan unik yang tak hanya mencerahkan tapi juga lucu dan menghibur. 

Modal saya menekuni dunia motivasi adalah pengalamannya selama 22 tahun membangun karier di dunia hiburan Indonesia yang sangat kompetitif dan masih bertahan hingga sekarang serta ditunjang dengan latar belakang pendidikan S-2 saya di bidang ilmu komunikasi.

Sebelumnya saya juga dikenal sebagai pembawa acara parodi politik. Ada beberapa alasan saya tidak menghidupakan kembali program parodi politik tersebut karena saat ini bukan lagi era asal kritik. Hal ini disebabkan perkembangan dunia media sosial yang pesat membuat siapa pun bebas dan mudah mengritik. Sekarang adalah eranya aksi dan tindakan nyata. Untuk bisa melakukan aksi, orang butuh motivasi dan inspirasi. 

Motivasi yang dibutuhkan pun motivasi yang bukan sekadar kata-kata bijak yang sifatnya menggurui tetapi motivasi yang disampaikan secara menghibur dan menyenangkan. Tidak merasa dinasehati tapi dihibur, membuat orang bisa menerima pesan motivasi dengan baik sehingga terpacu untuk segera mengaplikasikannya. 

Salah satu cara mendapatkan motivasi dan inspirasi adalah dengan mendengarkan kisah-kisah sukses dan pengetahuan yang dimiliki seorang ahli berdasarkan pengalaman dan pembelajaran. Inilah yang melatarbelakangi saya meluncurkan Forum Motivas Iwel Sastra. Melalui forum ini saya mendorong pembicara-pembicara muda untuk berbagi. Selain itu, forum ini merupakan salah satu usaha saya agar lebih banyak orang memiliki akses untuk mendapatkan motivasi dan inspirasi.

Acara ini dikemas dengan sangat menghibur karena saya selain bertindak sebagai host dan motivator, juga memfasilitasi pembicara-pembicara lain untuk berinteraksi dengan audience. Menurut pengamatan saya belum banyak acara motivasi yang dikemas dengan format seperti ini.

Nasehat S. Bagyo

S.Bagyo
Saya sangat beruntung dalam perjalanan hidup ini saya pernah belajar lawak dari maestro lawak Indonesia S. Bagyo. Tahun 1989 beberapa kali saya datang ke rumah S Bagyo di kawasan Setia Budi Jakarta Selatan. Di kediaman S Bagyo ini sering berkumpul pelawak-pelawak. Mulai dari yang belum terkenal hingga yang terkenal, mulai dari yunior hingga senior. Saya masih ingat disela-sela kesibukannya sebagai pelawak yang sangat ngetop S. Bagyo menyempatkan diri untuk berbincang dengan saya. S. Bagyo sebenarnya agak heran melihat saya yang saat itu baru berusia 16 tahun merantau ke Jakarta untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang pelawak.

"Menjadi pelawak itu bukan hanya sekadar melawak. Selain bisa melawak kamu juga harus bisa membuat materi lawakan," nasehat S Bagyo pada saya saat itu. 

Sesaat kemudian S Bagyo melempar bungkus rokok ke meja sambil berkata "nah, ketika kamu melihat bungkus rokok ini kamu harus bisa menjadikannya materi lawakan. Apa yang lucu dari bungkus rokok ini? apa yang bisa kamu ceritakan tentang bungkus rokok ini yang bisa membuat penonton tertawa? Kalau kamu berdiri dipojok sana sambil melihat bungkus rokok ini maka seharusnya ide yang keluar berbeda ketika kamu melihat dari sudut sini."

Dari S Bagyo saya belajar bahwa pelawak di masa itu tidak hanya sekadar mengandalkan improvisasi dengan mencela lawan main seperti yang banyak dilakukan komedian sekarang ini. Melawak memerlukan proses kreatif dalam usaha membuat orang lain tertawa. Hal ini juga diperkuat oleh pelawak Ateng ketika saya sering berkunjung ke rumahnya di kawasan Gudang Peluru Jakarta Selatan tahun 1996  - 1998. Bahkan Teguh pendiri Srimulat pun mengungkapkan bahwa kekuatan dan kesuksesan Srimulat terletak pada bank naskah yang dimilikinya.

Saya pun pernah mendengar langsung dari S.Bagyo proses beliau mendapatkan ide lawakannya kemudian dibahas bersama rekan satu grupnya Diran, Darto Helm dan Sol Soleh. Pelajaran dari S Bagyo ini sangat bermanfaat dan mempengaruhi karir saya sebagai pelawak. Ini juga yang membuat saya kemudian kesulitan membentuk grup lawak karena banyak rekan saya yang lebih senang memainkan lawakan pengulangan atau bahkan mengambil materi yang sudah pernah dimainkan pelawak senior atau grup lain. 

Ketika kesulitan membentuk grup lawak ini saya ungkapkan kepada S Bagyo, beliau dengan bijak menghibur saya "jangan berkecil hati, saya yakin walau tanpa grup kamu akan jadi pelawak terkenal."

Ketika saya tertarik dengan gaya komedi Jerry Seinfeld dan Bob Hope tahun 1997 dan mengenal istilah stand up comedy tahun 1998 saya merasa inilah model komedi yang pas untuk saya tekuni. Saya sudah terbiasa dengan komedi yang mengandalkan kekuatan naskah dan stand up comedy adalah komedi yang mengandalkan kekuatan naskah.

Pernah di suatu masa saya lelah dengan karir sebagai komedian yang perkembangannya tidak sepesat rekan komedian lain. Selain berdoa kepada Tuhan, hal lain yang memperkuat semangat saya adalah motivasi dari S. Bagyo "saya yakin walau tanpa grup kamu akan jadi pelawak terkenal."

Rabu, 11 November 2015

Testimoni Berimbang

Selain memberikan training dan motivasi di berbagai perusahaan saya juga sering mengadakan training public speaking untuk umum. Biasanya saya mempublikasikan jadwal training public speaking ini melalui akun sosial media saya. Training public speaking yang saya adakan formulanya berbeda dengan training public speaking yang diadakan oleh trainer lain. Saya memadukan pengalaman saya selama lebih 20 tahun berkecimpung di dunia public speaking dengan pengetahuan akademis mengenai public speaking yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya memformulakan selama 7 jam peserta mengikuti training mereka sudah bisa mempraktekan langsung dan merasakan perubahan kemampuan yang sangat signifikan dalam berbicara di depan publik.

Rekan saya pernah menanyakan kenapa dalam mempromosikan training public speaking saya tidak membuat brosur yang memuat testimoni dari para alumni training saya. Rekan ini tahu bahwa beberapa alumni training saya adalah trainer, public speaker, artis, model, komedian, entrepreneur, manajer hingga CEO. Dengan memuat testimoni para alumni ini tentu bisa memancing banyak orang lain ikut training saya. Menjawab pertanyaan rekan tersebut saya menyebutkan 2 alasan saya kenapa tidak pernah memuat testimoni alumni dalam brosur maupun materi promosi.

Pertama, saya menganggap publikasi jadwal training yang saya lakukan melalui sosial media bukanlah promosi melainkan ajakan bagi yang serius ingin memperdalam dan meningkatkan kemampuan public speakingnya untuk ikut training saya. Jadi biasanya yang ikut training saya adalah mereka yang benar-benar serius ingin memperdalam dan meningkatkan kemampuan mereka berbicara di depan publik.

Kedua, menurut saya testimoni itu harus berimbang. Rasanya kurang fair kalau saya hanya memuat pernyataan dari alumni yang dianggap sukses dalam menguasai public speaking. Padahal kemampuan yang dimilikinya tidak semata-mata hanya karena ikut training saya melainkan didukung oleh kerja keras dan semangat berlatih yang dimilikinya. Saya hanya memberi dorongan dengan pengetahuan teori, teknik dan pengalaman yang saya miliki. Ada beberapa trainer dan motivator yang suka memuat kisah sukses peserta trainingnya. Akan tetapi, bagaimana dengan peserta training lain yang belum merasakan manfaat yang mungkin jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan yang sukses. 

Kesimpulannya untuk training dan motivasi yang saya lakukan, saya memutuskan untuk tidak meminta testimoni dari peserta yang kemudian saya jadikan sebagai materi promosi. Saya bersyukur apabila ada yang mendapatkan manfaat dari pelatihan yang saya adakan. Jika belum, saya mendoakan semoga suatu saat itu tetap bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berharga bagi hidupnya.

Stand Up Comedy Show Metro TV

Stand up comedy semakin populer di Indonesia apalagi sejak Indosiar menayangkan Stand Up Comedy Academy. Sebelumnya, format kompetisi stand up comedy sudah dimulai Kompas TV lewat Stand Up Comedy Indonesia. Sementara itu, Metro TV sudah lebih dulu menayangkan program stand up comedy lewat Stand Up Comedy Show. Dari ketiga program stand up comedy yang ditayangkan oleh tiga stasiun televisi ini, saya beranggapan Stand Up Comedy Show yang ditayangkan Metro TV adalah format paling ideal untuk program stand up comedy. 

Alasan saya, Stand Up Comedy Show langsung menampilkan 3 orang comic (ketika durasi 30 menit) dan 5 comic (ketika durasi 1 jam). Ini membuat stand up comedy menjadi terlihat berbeda dengan program komedi yang sudah ada di Indonesia selama ini. Kompas TV yang mengusung format kompetisi menyelingi stand up comedy dengan gimmick komentar juri, celetukan pembawa acara serta beberapa gimmick lain. Indosiar malah terkesan menjadikan stand up comedy hanya sebagai tempelan. Porsi lucu lebih banyak diambil alih oleh interaksi pembawa acara, juri dan mentor yang melibatkan comic dalam berbagai gimmick. Materi yang ditampilkan comic membuat bias antara stand up comedy dengan lawak karena tujuannya hanya mengejar tawa penonoton dengan mengabaikan standarisasi stand up comedy. Bahkan belakangan, berlindung di balik istilah roasting, program ini malah mengandalkan celaan untuk memancing tawa.

Dengan hadirnya Stand Up Comedy Academy Indosiar harus diakui pamor Stand Up Comedy Show Metro TV menjadi tengelam. Ini wajar karena Indosiar merupakan TV hiburan dengan jangkauan luas dan menayangkannya dengan sistem stripping (setiap hari). Seharusnya hal ini bisa tidak terjadi jika sejak awal pemunculan Stand Up Comedy Show Metro TV sudah dilakukan antisipasi dengan membangun audience. Setahun setelah program Stand Up Comedy Show tayang, program ini makin tidak memiliki seleksi yang ketat terhadap comic yang tampil. Hal ini membuat program stand up comedy yang ditayangkan metro tv menjadi tidak berkelas. 

Penikmat stand up comedy Metro TV akhirnya hanya datang dari anggota dan penggemar komunitas stand up comedy. Pemirsa setia Metro TV yang terbiasa dengan program-program Metro TV yang elegan menjadi berjarak dengan Stand Up Comedy Show. Selain itu, materi-materi comic yang tampil di program tersebut juga nyaris seragam, seperti mencela diri sendiri, ngomongin ibunya, ngomongin pacar. Sangat sedikit comic yang materinya mengangkat current issue atau satir politik yang merupakan menu utama Metro TV sebagai tv berita.

Akibatnya ketika Stand Up Comedy Academy  Indosiar tayang, langsung mengembosi Stand Up Comedy Show karena beberapa comic, mentor dan juri yang tampil di Stand Up Comedy Academy Indosiar pernah tampil di Metro TV. Gaya materi yang ditampilkan comic tersebut pun nyaris sama dengan gaya comic kebanyakan yang tampil di Stand Up Show Metro TV. Jika saja sejak awal Metro TV lebih selektif dan memiliki standar terhadap comic dan materi yang ditampilkan, maka Stand Up Comedy Show Metro TV yang merupakan format ideal sebuah program televisi stand up comedy bisa menjadi harapan sebagai etalase stand up comedy yang sesungguhnya.

Minggu, 08 November 2015

Menjadi Karyawan Bintang

Ketika seseorang mulai bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, maka saat itu juga ia bisa membuat keputusan, apakah akan menjadi karyawan biasa atau karyawan bintang. Yang berprofesi sebagai karyawan dan memutuskan untuk menjadi karyawan biasa maka tidak perlu lagi meneruskan membaca artikel ini. Hanya buang waktu, he he he. Sementara yang ingin menjadi karyawan bintang maka teruslah membaca artikel singkat ini. Artikel ini singkat bukan berarti panjang. Ya iyalah…, wkwkwk.

Untuk menjadi karyawan bintang, berikut beberapa hal yang harus Anda perhatikan dan lakukan.

1. Niatkan diri Anda bahwa Anda ingin menjadi karyawan bintang. Niat ini sangat penting untuk mengokohkan visi dan tujuan dalam bekerja. Niat ini menjadi pendorong kita setiap hari untuk bisa mewujudkan target.

2. Tingkatkan kualitas diri. Jangan cepat berpuas diri dengan kemampuan yang dimiliki. Carilah waktu untuk bisa mengevaluasi kemampuan diri sendiri. Apakah ada ilmu yang belum dikuasai dan harus segera Anda kuasai. Apakah ada kemampuan (skill) yang harus segera Anda miliki untuk mempermudah Anda dalam bekerja.

3. Selalu berikan yang terbaik. Apa pun yang Anda kerjakan, baik pekerjaan yang menjadi tugas Anda, sekadar menolong rekan kerja atau bahkan diminta atasan untuk mengerjakan sesuatu yang bukan tugas Anda, berikanlah yang terbaik.

4. Sabar menjalankan proses. Jangan cepat menyimpulkan apa yang telah Anda lakukan sia-sia apabila dalam waktu tertentu Anda belum mendapat penghargaan dari atasan maupun perusahaan atas dedikasi yang telah Anda lakukan. Jangan sampai hal ini menyurutkan semangat Anda untuk menjadi karyawan bintang. Jalani proses dengan senang hati.

5. Lengkapi dengan doa. Ingatlah untuk selalu berdoa kepada yang Kuasa. Semoga apa yang Anda lakukan bermanfaat untuk diri sendiri, perusahaan dan orang banyak. Segala doa kebaikan akan kembali kepada diri kita. Berdoalah semoga diberi kekuatan dan ketekunan dalam mencapai impian untuk menjadi karyawan bintang.

Jika Anda melakukan 5 hal ini, selain mempermudah Anda berprestasi dalam pekerjaan, juga akan memberikan energi prositif bagi diri sendiri. Energi positif ini pasti akan membuat Anda semakin mencintai pekerjaan sehingga Anda selalu bahagia dalam bekerja. Bahagia membuat pikiran tenang dan tubuh menjadi sehat. 

Iwel Sastra
Komedian, Trainer & Motivator
Informasi training & motivasi : hubungi Cici 08176655874
follow twitter @iwelsastra19     Instagram @iwelsastra