Sabtu, 27 Juli 2013

Endorsement MotivAction: Mimpi atau Mati!

“Melalui buku ini Anda bisa menemukan lentera jiwa dan motivasi, yang mendorong Iwel menjadi sosok yang kita kenal dari ‘Republik Mimpi’. Kaum muda, belajarlah dari buku ini.”
—Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., Pendiri Yayasan Rumah Perubahan

“Segar, ringan, tetapi berbobot. Bacaan penuh inspirasi dan humor dari seorang pelopor stand up comedy Indonesia. Ayo beli dan baca!”
—Tung Desem Waringin, Penulis Buku Bestseller Financial Revolution & Marketing Revolution

“Buku yang lucu berkelas, penuh ilmu, dan pengalaman nyata yang bernas.”
—Jamil Azzaini, Inspirator Sukses Mulia (www.JamilAzzaini.com)

“Motivasi tanpa aksi adalah omong kosong. Buku ini siap menampar Anda untuk segera bertindak!”
—Bong Chandra, Entrepreneur, Motivator, Penulis


“Motivation + action = pasangan ideal untuk menemani kehidupan. Buku ini berisi kisah perjuangan dengan grafik emosi yang terkadang menukik tajam, tetapi selalu siap untuk melesat lebih tinggi!”
—Asty Ananta, Artis dan Presenter

“Dengan gaya khas yang menyelipkan candaan dalam kalimat-kalimatnya, Iwel mengajak kita bermimpi dan memulai langkah kecil sampai akhirnya menjadi loncatan besar. Kuncinya, ACTION!”
—Aviani Malik, Presenter Metro TV

Sabtu, 20 Juli 2013

Mengenal Stand Up Comedy

Pandji, Iwel, Ernest
Tulisan ini saya tulis pada bulan Juli 2005 ketika saya masih menjadi stand up comedian di acara bincang bintang RCTI. Semula tulisan ini "waktu itu" akan saya kirimkan ke sebuah surat kabar nasional. Entah kenapa waktu itu tidak jadi saya kirim.

Ide tulisan ini muncul ketika suatu hari di bulan Juli 2005 saya diundang oleh seorang teman kesebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Disana sedang diadakan stand up comedy contest. Ini bukanlah comedy café melainkan kafe yang biasanya menyajikan hiburan musik top 40.

Pada saat itu sebuah stasiun televisi juga mengadakan lomba lawak antarmahasiwa yang salah satu kriterianya memperlombakan stand up comedy. Istilah stand up comedy pada tahun 2005 sudah mulai beredar di masyarakat walau masih terasa asing. 

Setelah saya revisi sedikit tulisan ini saya muat di blog saya. Tepat delapan tahun setelah tulisan ini pernah saya tulis dan simpan sebagai koleksi tulisan pribadi. Inilah isi tulisan saya delapan tahun yang lalu.

Sudah berapa bulan ini saya membawakan sesi stand up comedy di acara Bincang Bintang RCTI. Beberapa hari lalu di sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan diadakan stand up comedy contest. Apa sih sebenarnya stand up comedy itu? 

Stand up comedy adalah salah satu gaya komedi yang sangat populer di Amerika. Pelakunya disebut stand up comedian atau comic. Di negeri Paman Sam ini ada beberapa gaya komedi yang sangat populer diantaranya stand up comedy, sketch comedy dan props comedy. Masing-masing memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri. Disini saya akan mengulas tentang stand up comedy.

Agak sulit menterjemahkan stand up comedy ke dalam bahasa Indonesia. Jika diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia, stand up comedy menjadi komedi berdiri. Kalau artinya komedi berdiri maka semua pelawak di Indonesia bisa dikatakan stand up comedian. Hal ini disebabkan hampir semua pelawak Indonesia melakukan pertunjukan komedi secara berdiri. Pertunjukan komedi yang dilakukan secara berdiri tidak otomatis disebut stand up comedy karena secara bahasa istilah ini tidak sekedar mengatakan bahwa ini adalah pertunjukan yang dilakukan oleh komedian dengan cara berdiri. Secara bahasa, stand up comedy merupakan istilah mandiri sehingga sulit diterjemahkan secara harafiah. Namun demikian, stand up comedy dapat dipahami.

Berbeda dengan pelawak Indonesia yang cenderung melawak dalam grup, seorang stand up comedian melawak seorang diri di hadapan pentontonnya. Ia membawakan materi lawakan yang lucu sesuai dengan gaya lawakan yang dianutnya. Saya berbeda pendapat dengan seorang pengamat lawak Indonesia yang mengatakan bahwa stand up comedy tidak harus dilakukan sendirian tetapi juga bisa dilakukan secara grup yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Namun pengamat ini tidak dapat memberikan alasan yang berdasar mengenai argumentasinya tersebut.

Berdasarkan pengamatan, belum saya temui stand up comedian yang populer karena melakukannya dalam grup. Jerry Seinfeld, Eddy Murfy, Steve Martin, dan Robin Williams melakukannya sendiri. Komedian Steve Harvey, DL Huggley, Cedric The Entertainer dan Bernie Mac memang pernah melakukan pertunjukan stand up comedy bersama yang mereka beri nama kings of comedy, namun mereka tetap tampil sendiri-sendiri di atas panggung. Kalau komedi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, disebut dengan istilah sketch comedy.

Dari pengamatan dan beberapa literature yang saya baca mengenai stand up comedy terdapat  beberapa aliran dalam stand up comedy, diantaranya observational yang dipopulerkan oleh Jerry Seinfeld. Aliran ini mengangkat kejadian sehari-hari di tengah masyarakat berdasarkan observasi sang komedian. Misalnya, kejadian di tempat cuci mobil, antri tiket bioskop, naik pesawat dan lain-lain.

Aliran topical hampir mirip dengan observational. Bedanya, topical lebih mengangkat isu-isu aktual, seperti kebijakan pemerintah atau berita utama media massa. Aliran ini bisa kita lihat dari materi yang dibawakan oleh Jay Leno, David Letterman dan Conan O’Brien dalam show televisi mereka
.
Aliran impresionist yang biasa dibawakan oleh Mike Myers maupun Jimmy Fallon umumnya menirukan suara, penampilan atau tingkah laku seorang tokoh atau selebriti terkenal. Misalnya, Jimmy Fallon dalam acara America’s Got Talent menirukan suara dan gaya sejumlah comic terkenal seperti Jerry Seinfeld, Chris Rock, Robin Williams dan lain-lain.

Ada juga aliran improvisational yang sering dilakukan oleh Robin Williams, meskipun disebut inprovisasi namun komedian ini tetap mempersiapkan garis besar materi lawakan yang akan dibawakannya. Kemudian dia loncat dari suatu topik ke topik yang lain. Disamping yang saya sebutkan tadi masih ada beberapa aliran stand up comedy lainnya.

Kerancuan masyarakat lawak Indonesia dalam memandang stand up comedy seringkali terlihat. Ada orang yang mempunyai beberapa koleksi cerita lucu kemudian membawakannya diatas panggung, berani mengaku telah melakukan stand up comedy. Hal paling mendasar yang harus diketahui adalah, stand up comedy sangat berbeda dengan telling jokes. Inilah bagian dasar yang agak sulit dijelaskan, bahwa stand up comedy berbeda dengan telling jokes. “people confuse stand up with telling jokes” (Judy Carter, Stand Up Comedy – The Book, 1989)

Dalam membuat materi lawakan ada dua istilah dasar yang harus diketahui oleh seorang stand up comedian yaitu setup dan punchline. Setup berisi informasi dan petunjuk mengenai cerita yang dibawakan oleh komedian. Misalnya tentang angkutan umum yang payah, nasib menjadi jomblo, atau masalah korupsi. Sedangkan punchline berisi bagian cerita yang membuat penonton tertawa. Punchline harus lucu karena apabila tidak lucu maka cerita akan menjadi sia-sia. Penonton tidak memberikan reaksi positif sehingga komedian akan bisa kehilangan auranya.

Setup dan puncline merupakan satu kesatuan yang utuh. Meskipun terpisah namun memiliki korelasi satu dengan yang lain.  Contoh : Saya paling nggak tega kalau dapat tempat duduk terus melihat perempuan berdiri di bus. Kalau melihat perempuan berdiri saya langsung pura-pura tidur.

Disini kita lihat setup nya : Saya paling nggak tega kalau dapat tempat duduk  terus melihat perempuan berdiri di bus. Inilah informasi dan petunjuk cerita yang dibawakan oleh komedian. Lazimnya jika seorang pria melihat perempuan berdiri di bus maka dia akan mempersilahkan perempuan tersebut untuk duduk. Namun pada punchline atau bagian yang membuat penonton tertawa, komedian malah berkata “kalau melihat perempuan berdiri saya langsung pura-pura tidur.”

Punchline juga bisa berisi sindiran yang mengajak penonton untuk menertawakan diri sendiri, biasanya ini sering kita temui pada materi observasional Jerry Seinfeld. Contoh, kalau menginap di hotel, yang paling dulu saya periksa adalah kamar mandinya. Berapa handuk yang kira-kira bisa dibawa pulang. Setupnya adalah saya kalau menginap di hotel yang  paling dulu saya periksa adalah kamar mandinya. Disini penonton bisa mengira sang komedian seseorang yang sangat teliti dalam kebersihan kamar mandi. Ternyata pada punchline dia mengatakan “berapa handuk yang bisa dibawa pulang.” Disini komedian mengajak penonton untuk menertawakan diri sendiri, karena kecenderungan beberapa orang yang suka menginap di hotel suka membawa handuk pulang.

Contoh berikut adalah contoh  joke yang tidak bisa dikategorikan sebagai materi stand up comedy:

Seorang perampok melakukan perampokan dalam sebuah rumah, si perampok berkata  “Saya punya kebiasaan selalu membunuh korban yang dirampok, dan sebelum saya bunuh, saya harus tahu dulu nama korban.”  Lalu perampok bertanya kepada nyonya rumah "sebutkan nama anda, sebelum saya bunuh.” Dengan ketakutan Nyoya rumah menjawab "e...mm, nama saya Sulastri.” Perampok  dengan mata terbelalak bergumam "itu adalah nama ibuku, beruntung nyonya tidak  jadi aku bunuh.” Lalu perampok beralih kepada  suami korban  "Nah kalo bapak siapa namanya?. Sambil  ketakutan sisuami menjawab “  nama saya Joko, tapi orang sering memanggil saya Sulastri.”

Apabila joke di atas dibawakan di panggung maka lebih tepat disebut dengan telling jokes atau anekdot.

Sebenarnya masih banyak hal yang dapat dijelaskan mengenai stand up comedy. Semoga dengan memahami hal yang mendasar seperti setup dan punchline membuat kita paham tentang stand up comedy. Seperti halnya pantun yang berbeda dengan puisi, begitu pula halnya stand up comedy dengan telling jokes. Sangatlah tidak lucu kalau ada orang yang mengaku stand up comedian tetapi tidak mengerti tentang stand up comedy.

Senin, 15 Juli 2013

Cara Mudah Belajar Stand Up Comedy

Untuk menjadi seorang stand up comedian ada langkah mudah yang bisa dilakukan:

1. Belajar dan berlatih public speaking. Kemampuan public speaking yang baik sangat membantu untuk menjadi seorang stand up comedian yang baik. Ini sangat membantu dalam delivery jokes dan memainkan emosi yang berhubungan dengan joke yang dimainkan.

Sebagai studi kasus di Indonesia, kemampuan public speaking sebagian stand up comedian dipelajari secara otodidak. Ada diantara mereka yang sudah terbiasa ngocol dilingkungan pergaulan atau tongkrongan. Sudah terbiasa menceritakan berbagai macam cerita lucu dalam pergaulan. Hingga sudah memiliki modal ngocol untuk menjadi stand up comedian. Bagi yang belum terbiasa bicara didepan umum tentu lebih baik belajar public speaking karena stand up comedy bukan hanya sekedar berbicara didepan umum tapi lebih dari itu bicara dan membuat tertawa penonton.

2. Belajar dan berlatih formula menulis materi stand up comedy. Secara sederhana materi stand up comedy yang seringkali juga disebut joke terdiri dari dua bagian yaitu set up dan punchline.  Meskipun set up bukan merupakan bagian yang lucu pada sebuah joke namun set up merupakan bagian yang penting sebagai pengantar kepada punchline. Set up ini singkat dan tidak bertele-tele. Jika set up terlalu panjang maka nanti jadinya bukan stand up comedy melainkan story telling. Sedangkan punchline merupakan bagian yang lucu dalam sebuah joke

Sebuah artikel menyebutkan perempuan lebih banyak bicara daripada pria (set up)
Mungkin ini sebabnya GPS menggunakan suara perempuan (punchline)

Stand up comedian akan membangun ekspektasi penonton melalui set up. Kemudian ekspektasi ini dibelokan atau dipatahkan melalui punchline. Inilah yang kemudian menimbulkan kelucuan. 

Kemampuan public speaking dan menulis materi stand up comedy merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Jika memiliki kemampuan public speaking namun tidak memiliki kemampuan menulis materi stand up comedy maka akan sulit menjadi seorang stand up comedian. Secara umum stand up comedian menulis sendiri materinya. Boleh saja stand up comedian memainkan materi orang lain, tentu saja dengan seijin penulis materi tersebut. Bagi yang memiliki kemampuan public speaking namun tidak memiliki kemampuan menulis joke, profesi yang cocok adalah sebagai pembawa acara atau pembicara. Menjadi pembawa acara dan pembicara tidak dituntut untuk lucu.

Mereka yang memiliki kemampuan menulis materi stand up comedy namun tidak memiliki kemampuan public speaking maka yang terjadi adalah tidak mampu menghantarkan joke dengan baik. Akibatnya grogi dipanggung, bicara belepotan hingga lupa sama materi yang sudah dipersiapkan. Mereka yang memiliki kemampuan menulis joke tapi tidak memiliki kemampuan public speaking, lebih cocok sebagai penulis naskah humor atau menjadi tim kreatif yang membantu memberikan materi-materi kepada stand up comedian.

Jika sudah memiliki dua modal dasar diatas sebaiknya ditambah dengan pengetahun mengenai istilah-istilah yang terdapat dalam stand up comedy. Istilah-istilah ini bisa dipelajari dari berbagai buku stand up comedy dan melalui internet. Selain itu menambah referensi pribadi dengan menonton secara langsung pertunjukan stand up comedy dan menyaksikan rekaman stand up comedy dari stand up comedian yang sudah terkenal.

Selanjutnya mulai memasarkan diri sebagai stand up comedian. Ikut open mic dan audisi. Setelah itu buat strategi karir. Target apa yang diinginkan sebagai seorang stand up comedian. Apakah job manggung yang banyak, program televisi atau main film. Setelah mengetahui target, langkah selanjutnya adalah action untuk mewujudkan target tersebut.

Sabtu, 06 Juli 2013

Mengembangkan Stand Up Motivation

12 Oktober 2011 saya menerima tawaran untuk mengisi acara di PT. Rajawali Nusantara Indonesia. Menariknya saya diminta bukan untuk menampilkan stand up comedy melainkan memberikan motivasi ala motivator. Alasannya pihak panitia ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Saya dipilih karena dianggap mampu untuk melakukan itu. Sebelumnya saya juga pernah diundang oleh beberapa perusahaan untuk memberikan motivasi dengan menceritakan perjalanan karir saya sebagai komedian dan pembawa acara.

Sebenarnya saya sudah memiliki ketertarikan dengan dunia motivasi semenjak akhir tahun 90-an dengan membaca secara rutin tulisan Gede Prama disebuah harian nasional. Ketertarikan saya dengan tulisan Gede Prama membuat saya akhirnya bisa berkenalan dengan Gede Prama. Kami pun pernah membuatkan demo program motivasi untuk televisi. Kami melakukan suting di taman bunga cibubur. Saya yang menyutradarai merangkap sebagai juru kamera dan editor.

Tahun 2000-an motivator mulai banyak bermunculan. Saya pun mengamati beberapa diantara mereka. Saya terkadang suka terheran-heran sendiri beberapa materi yang disampaikan oleh motivator tersebut agak mirip dengan yang pernah saya pelajari hanya berbeda cara penyampian dan sudut pandang. Dalam buku motivaction: mimpi atau mati! saya menulis pernah belajar agama dengan KH. Arya Jaka Lelana. Melalui guru saya inilah saya sering sekali mendengarkan ungkaian kata-kata motivasi. Bahkan sebelum AA Gym populer saya juga pernah bertemu dengan kiai yang terkenal dengan manajemen qolbunya di rumah guru saya tersebut. Sahabat saya Uje juga sering berkunjung dan berdiskusi berbagai untaian kata penuh makna dengan KH. Arya Jaka Lelana.

Ketika merintis karir sebagai stand up comedian pernah terlintas dalam pikiran saya untuk beralih menjadi seorang motivator. Niat ini saya urungkan karena bagi saya lebih menantang untuk tetap mengembangkan stand up comedy dibandingkan menjadi seorang motivator. 

Setelah memberikan Motivasi di PT. Rajawali Nusantara Indonesia saya melakukan evaluasi. Peserta pada saat itu sangat termotivasi dengan apa yang saya sampaikan. Saya juga menyelipkan humor diantara materi motivasi. Hanya saja saya berpikir gaya saya saat itu terjebak menjadi seorang motivator sehingga identitas saya sebagai komedian agak tengelam. Saya bisa disebut lebih menjadi motivator humor. Meskipun ada kata humor dibelakangnya, penggunaan kata motivator didepan menunjukan saya ini lebih berperan sebagai seorang motivator. Ada istilahnya motivator super, motivator cinta, nah ini motivator humor yang lebih menekankan pada sisi motivatornya.

Untuk tetap menunjukan identitas saya sebagai stand up comedian kemudian saya akhirnya menemukan istilah yang cocok jika saya memberikan motivasi yaitu stand up motivation. Memadukan stand up comedy dengan motivasi. Kata stand up berada di depan sehingga bisa dimaknai menjadi stand up comedian yang memberikan motivasi. Dalam menyampaikan materi motivasi tetap dengan gaya stand up comedy.

Setelah buku motivaction: mimpi atau mati! terbit saya banyak diundang untuk memberikan motivasi berdasarkan isi buku yang saya tulis. Saya pun selalu menyebutkan bahwa sesi yang saya isi adalah sesi stand up motivation. Bahkan ketika menjadi seorang trainer dengan topik seputar leadership, team building dan komunikasi, saya tetap mempertahankan ciri sebagai stand up comedian.

Jumat, 05 Juli 2013

Pemasaran Narsis

Bagi yang sudah membaca buku Motivaction: Mimpi atau Mati! tentunya sudah tahu kalau Bab 2 buku tersebut membahas tantang pemasaran diri. Dalam sub bab pemasaran diri saya menulis tentang pemasaran narsis. Kenapa saya memberikan istilah pemasaran narsis? karena menurut saya ini adalah era dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang sama bernarsis ria untuk memasarkan diri. Tujuannya bukan hanya sekedar untuk mendapatkan job tapi juga bisa hanya sekedar untuk eksis.

Banyak sekali contoh pemasaran narsis yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Lihat aja twitter yang sekarang menjadi ajang untuk bernarsis ria. Ada yang ingin kelihatan pintar, ada yang ingin kelihatan kritis, bahkan motivator-motivator dadakan bermunculan di ranah twitter yang siap untuk menebar aneka ragam kata motivasi. Mulai dari urusan keuangan hingga masalah jodoh. Contoh lain nggak usah jauh-jauh yaitu saya sendiri he he he. Saya juga sering menjadikan twitter sebagai ajang bernarsis ria utk memasarkan diri. Supaya eksis dan dapat job tentunya. Dalam buku motivaction saya juga meyebutkan alasan saya lebih suka menggunakan kata memasarkan diri, soalnya kalau jual diri kesannya gimana gitu ciiin.

Sekarang ini artis, politisi, siapa saja termasuk saya, mau muncul di tivi biasanya suka broadcast, ngetwit .., apa itu nggak narsis. Jangan lupa ya bentar lagi nonton tivi, ada saya lho di tivi. Saya juga sering mendapatkan link berita online dari politisi tentang berita-berita yang terkait dengan dirinya.  Ada orang yang pede mendeklarasikan diri sebagai capres .., kurang narsis gimana coba .., inilah era narsis. Media sosial, gadget dan teknologi mendukung semua orang untuk narsis dan memasarkan diri secara narsis.

Pakar pemasaran Yuswohady dalam tulisannya konsumen narsis yang dimuat di www.yuswohady.com menyebutkan "kini, ketika SMS, BBM, Facebook, Twitter, YouTube, atau blog memungkinkan kita mendapatkan exposure itu dengan murah dan mudah, maka keinginan kita untuk dilihat dan diperhatikan (saya sebut: “naluri narsis”) pun menjadi terbebaskan dan terlampiaskan".

Sudah susah di era sekarang menarik simpati dengan gaya low profile.  Maksudnya low profile suka sok merendah  "jangan sayalah .., saya ini nggak bisa apa-apa." Atau "ah saya biasa aja kok". Jamil Azzaini dalam  tulisannya yang berjudul sok rendah hati yang dimuat di www.jamilazzaini.com menyebutkan terkadang ada orang yang sok rendah hati dengan mengatakan, “Saya tidak bisa apa-apa. Saya tidak punya kemampuan apa-apa.” Menurut Jamil orang ini secara tidak langsung menghina Sang Pencipta. Seolah-olah ia menganggap bahwa Allah SWT menciptakan produk gagal di muka bumi.

Walaupun namanya pemasaran narsis namun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan pemasaran narsis yaitu kita harus mempersiapkan produk yang akan kita pasarkan dengan sebaik-baiknya. Dalam memasarkan diri, produk yang dipasarkan adalah diri sendiri maka kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Jangan sampai ketika kita telah berhasil menarik perhatian orang dengan kenarsisan kita tetapi kemampuan yang kita berikan masih jauh dari harapan.

Jumat, 21 Juni 2013

Sejarah Lawak Tunggal Dan Stand Up Comedy Di Indonesia

Kadir pelawak senior jebolan Srimulat pernah bertanya kepada saya Wel, apa bedanya lawak dan stand up comedy? Kok saya nggak menemukan bedanya? Sama saja!
 
Ini pertanyaan yang seringkali saya terima. Saya rasa wajar jika pertanyaan ini muncul karena stand up comedy baru sekitar dua tahun ini populer di masyarakat Indonesia meskipun saya sudah mensosialisasikan sejak tahun 1998. Mungkin pertanyaan ini muncul karena masyarakat melihat penampilan beberapa stand up comedian di Indonesia tidak berbeda dengan penampilan pelawak.

Dalam buku MotivAction: Mimpi atau Mati! saya menyebutkan antara pelawak dan stand up comedian bisa dikatakan serupa tetapi tidak sama. Lawak merupakan akar komedi asli Indonesia yang dirintis oleh pelawak-pelawak terdahulu, sedangkan stand up comedy dapat dikatakan sebagai komedi impor
.
Sebelum kita melihat sejarah stand up comedy di Indonesia kita tengok sejenak sejarah stand up comedy dari negeri asalnya Amerika Serikat. Ada perbedaan pendapat mengenai kapan istilah stand up comedy mulai digunakan. Ada yang menyebut tahun 50-an ada juga yang mengatakan tahun 60-an.

Dalam tulisannya The History Of Comedy: The First Stand Up, komedian Jim Mendrinos menyebutkan istilah stand up comedy dikenalkan tahun 1966 mengacu pada the Oxford English Dictionary dan Webster’s Collegiate Dictionary. Andrea Shannon Prussing-Hollowell dari Georgia State University dalam makalahnya Standup Comedy as Artistic Expression: Lenny Bruce, the 1950s, and American Humor menyebutkan stand up comedy sudah dikenal sejak tahun 50-an. Hollowell menulis sejumlah nama yang bersinggungan dengan stand up comedy di 50-an seperti Jack Benny, Fred Allen, and Bob Hope.

Ternyata pada era yang sama dengan Jack Benny, Fred Allen dan Bob Hope, Di Jakarta (Indonesia) tahun 50-an mulai muncul pelawak tunggal. Tahun 1953 Bing Slamet berhasil menjadi juara lomba lawak tunggal. Ini menunjukan sudah mulai banyak pelawak-pelawak tunggal bermunculan sehingga tahun 1953 biasa diadakan lomba lawak tunggal. Trend lawak tunggal merambah ke kota lain. Tahun 1957 Eddy Sud, S Bagyo dan Iskak menjadi  juara lomba lawak tunggal di Yogyakarta. Dari kota kembang Bandung muncul pelawak Us Us yang kemudian hari dijuluki sebagai Jerry Lewis Indonesia.

Entah kenapa sebabnya Bing Slamet tahun 1958 memutuskan meninggalkan lawak tunggal dengan membentuk grup lawak Trio Los Gilos bersama Mang Cepot dan Mang Udel. Duet Mang Cepot dan Mang Udel sudah dikenal sejak tahun 1951 lewat siaran humor mereka di RRI. Trio Los Gilos inilah yang bisa disebut sebagai akar lawakan modern di Indonesia. Kehadiran dan popularitas Los Gilos, memancing para pelawak tunggal seperti Eddy Sud, S Bagyo dan Iskak membentuk grup lawak EBI. Akhir 50-an era pelawak tunggal mulai hilang digantikan era grup lawak trio yang bertahan hingga akhir tahun 60-an. 

Era grup lawak kwartet dimulai tahun 1967 dengan terbentuknya Kwartet Kita yang beranggotakan Eddy Sud, Bing Slamet, Ateng dan Iskak. Kwartet Kita berubah nama menjadi kwartet Jayakarta, kemudian lebih dikenal dengan nama Kwartet Jaya. Pada era ini bermunculan grup lawak yang beranggota empat orang seperti S Bagyo CS  yang beranggotakan S Bagyo, Darto Helm, Diran, Sol Soleh. Ada juga Surya Grup  dengan formasi Jalal, Herry Koko, Susi Sunaryo, Prapto. Serta grup lawak lainnya.
 
Selain nama-nama pelawak yang telah disebutkan sebelumnya, ada sebuah nama yang tidak bisa lepas dalam sejarah dunia lawak Indonesia yaitu Kris Biantoro. Kemampuannya memainkan lelucon membuat Kris Biantoro juga disebut-sebut sebagai pelawak tunggal generasi awal. Kris Biantoro sempat menjadi additional player grup lawak Kwartet Jaya menggantikan Bing Slamet yang beristirahat karena sakit hingga Bing Slamet wafat. Kemudian hari Kris Biantoro lebih banyak berkiprah sebagai penyanyi dan pembawa acara disamping main dalam sejumlah film. Kris Biantoro pula yang mengusulkan nama grup lawak Bagito kepada Mi’ing dan kawan-kawan yang berarti bagi roto (bagi rata).

Ada juga nama Benyamin S. Meskipun Benyamin lebih fokus menjadi penyanyi lagu-lagu betawi dan main film, kemampuan Benyamin sebagai pelawak tunggal tidak diragukan lagi. Benyamin memiliki warna sendiri. Hingga akhir hayatnya Benyamin tidak pernah tercatat bergabung secara permanen dengan sebuah grup lawak. Benyamin lebih suka menyebut dirinya sebagai pelawak lepas. Artinya dia bisa bermain dengan grup lawak manapun tanpa terikat. Benyamin mengeluarkan beberapa kaset lawak bersama Eddy Sud dan Srimulat.

Us Us dapat disebut sebagai pelawak yang cukup lama bertahan sebagai pelawak tunggal. Tahun 70-an Us Us pun akhirnya mengikuti jejak pelawak tunggal lain untuk membentuk grup lawak. Us Us mendirikan grup lawak D’Bodors bersama Sup Yusup dan Rudi Djamil. Formasi grup ini berubah pada tahun 1983 ketika posisi Sup Yusup dan Rudi Djamil digantikan oleh Yan Asmi dan Kusye.

Era 70-an trend lawak tunggal kembali dihidupkan dengan munculnya berbagai lomba lawak tunggal. Lomba ini memunculkan nama Otong Lenon dan Memet Mini. Tahun 80-an lomba lawak tunggal juga sering diadakan. Nama-nama yang muncul di era ini seperti Komar, Atet Zakaria, Ali Nurdin, dan Otong Lalo. 

Menurut saya lomba lawak tunggal pada masa ini, oleh pelawak sering dijadikan sebagai ajang untuk mencari teman untuk membentuk grup lawak. Juara-juara lomba lawak tunggal era 70-an dan 80-an pada akhirnya banyak membentuk grup lawak. Memet Mini sempat membentuk grup lawak Billy bersama Atet Zakaria dan Jack John. Komar bersama Ogut, Kimung dan Firman membentuk Tom Tam grup. Ali Nurdin bergabung dengan Doyok Grup. Otong Lalo membentuk grup lawak Jali-Jali bersama Yanto Stuck On You, Cacan dan Bonang. Otong Lenon sempat membentuk Trio Semekot. Tiga orang personil grup lawak Sersan Prambors adalah alumni lomba lawak tunggal yaitu Pepeng, Khrisna Purwana dan Nana Krip.

Saya menilai pelawak-pelawak tunggal yang kemudian harus membuat grup di era itu karena kurangnya ruang bagi pelawak tunggal untuk tampil. Slot lawak yang disediakan oleh TVRI lebih ditujukan untuk grup lawak. Acara-acara panggung juga lebih membuka kesempatan kepada grup lawak. Disamping itu kebiasaan penonton yang sudah terbiasa melihat acara komedi ditampilkan secara berkelompok. Seperti ludruk, ketoprak, lenong dan Srimulat yang dimainkan oleh sekumpulan pemain.

Saya sendiri juga terjebak bertahun-tahun pada kondisi ini. Ketika merantau ke Jakarta tahun 1989 target pertama saya adalah membentuk grup lawak. Kondisi ini saya jalani bertahun-tahun. Dari tahun 1989 hingga tahun 1997 waktu saya habis hanya untuk membentuk grup lawak. Bukanlah pekerjaan mudah untuk menemukan pelawak lain yang memiliki visi dan misi yang sama dalam membentuk sebuah grup lawak.

Tahun 1997 Setelah menonton film dokumenter tentang Bob Hope dan menyaksikan sitkom Seinfeld, saya memutuskan untuk bersolo karir sebagai pelawak tunggal. Dalam buku Motivaction: Mimpi atau Mati! saya menulis tahun 1998 rekan saya Diaz Hendropriyono yang sekolah di Amerika yang memperkenalkan istilah stand up comedy kepada saya. Sejak tahun 1998 itulah secara resmi di kartu nama saya tulis profesi: stand up comedian.

Memperkenalkan stand up comedy pada saat itu bukanlah perkara yang mudah. Hingga akhirnya tahun 2004 saya mempunyai ide untuk membuat pementasan stand up comedy pertama di Indonesia. Tujuannya agar bisa diliput oleh media massa, sehingga masyarakat lebih paham mengenai stand up comedy. 6 Maret 2004 saya dengan modal nekat dan tekad saya melakukan pementasan stand up comedy di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan inilah yang kemudian menghantarkan saya untuk melakukan stand up comedy di sejumlah tv nasional seperti acara Jayuz Pliss Dong Ah TV7 (sekarang Trans7) dan Bincang Bintang RCTI.

Disisi lain, Ramon Papana pemilik comedy café juga aktif mempopulerkan stand up comedy dengan membuka workshop mengenai stand up comedy serta rutin mengadakan open mic di comedy café. Kami pun sering berbincang mengenai perkembangan stand up comedy di Indonesia. Kemudian muncul ide untuk merekam penampilan saya melakuan stand up comedy di comedy cafe bersama beberapa stand up comedian pemula lainnya melakukan open mic untuk di upload di youtube.  Kamis 21 Oktober 2010 saya melakukan open mic di comedy cafe. Penampilan singkat ini direkam dan di upload di youtube.

Setahun setelah itu, Ramon membuka kesempatan kepada stand up comedian pemula untuk melakukan open mic di comedy cafe. Twitter yang saat itu mulai tren membuat informasi mengenai open mic ini cepat tersebar.  Pertengahan tahun 2011 mulai banyak stand up comedian yang melakukan open mic di comedy cafe. Ramon pula yang mencetuskan ide untuk merekam sejumlah penampilan stand up comedian dalam open mic di comedy cafe untuk di unggah di youtube. Ini memberikan dampak positif dalam perkembangan stand up comedy di tanah air.

Pandji Pragiwaksono yang sebelum dikenal sebagai presenter dan Raditya Dika yang dikenal sebagai penulis buku juga ikut menekuni stand up comedy secara serius. Open mic yang mereka lakukan di comedy café 13 Juli 2011 diunggah ke youtube dan mendapatkan respon yang sangat luar biasa karena Pandji dan Raditya Dika memiliki banyak follower di twitter. Momentum ini dibaca oleh Metro TV dan Kompas TV dengan membuat program stand up comedy. Nama Pandji dan Raditya Dika semakin dikenal sebagai stand up comedian setelah Kompas TV memberi kesempatan kepada mereka berdua menjadi pembawa acara kompetisi stand up comedy Indonesia. Komunitas-komunitas stand up comedy pun bermunculan di seluruh penjuru nusantara.

Menjawab pertanyaan diawal tulisan, apa bedanya stand up comedy dengan lawak tunggal? Secara format tidak ada bedanya. Sama-sama dimainkan oleh satu orang. Bedanya, melawak itu bisa lebih bebas, tidak terpaku dalam sebuah pakem. Materi yang dibicarakan bentuknya bebas asalkan lucu. Boleh cerita fiksi yang berpanjang-panjang. Misalnya pelawak menceritakan tentang pengalaman menolong bapaknya yang kecebur sumur. Cerita itu fiksi semata, kemudian dalam menceritakannya disertai dengan bumbu-bumbu lucu supaya seru. Itulah lawak.

Sedangkan stand up comedy memiliki berbagai pakem yang telah disepakati. Seperti adanya set up dan punchline. Set up yang nggak boleh bertele-tele. Jika set up terlalu panjang maka kemudian akan dikategorikan sebagai story telling. Topik yang dibicarakan dalam stand up comedy adalah nyata bukan fiksi. Bukan berarti nggak boleh membicarakan tokoh fiksi. Seorang stand up comedian harus memiliki point of view terhadap sebuah hal yang terjadi. Misalnya seorang stand up comedian akan membicarakan tentang film Superman (Man of Steel)

“Saya kalau kecopetan nggak bakalan mau ditolong sama superman” (set up)
“Isi dompet nggak seberapa, nanti gedung hancur bisa sepuluh” (punchline)

Stand up comedian yang menjadikan headline atau berita surat kabar sebagai set up maka dia disebut memiliki gaya topical seperti Jay Leno. Jika dia menjadikan pengamatan sehari-hari sebagai set up maka dia disebut bergaya observational seperti Jerry Seinfeld.  Stand up comedian yang suka menirukan gaya bicara dan gerak tubuh  tokoh terkenal atau selebriti maka dia disebut bergaya impressionist, seperti yang sering dilakukan Jimmy Fallon.


Iwel Sastra bersama pemilik Comedy Cafe Ramon Papana
Iwel Sastra
Komedian & Pakar Motivasi
follow @iwelsastra19

Minggu, 16 Juni 2013

Belajar Dari Stand Up Comedy Festival 2013

Minggu 16 Juni 2013 saya menyempatkan hadir untuk menonton Stand Up Comedy Festival 2013 yang diselenggarakan oleh @standupmetrotv dan @standupindo. Suatu kehormatan saya bisa duduk menyaksikan acara ini dari kursi VIP bersama ribuan penonton yang memadati Hall Basket Senayan tempat acara dilangsungkan. Berhubung saya datang ke acara malam, saya hanya bisa menyaksikan penampilan 14 comic yang malam itu ditutup dengan penampilan Pandji Pragiwaksono. 

Niat utama saya menyaksikan acara ini selain untuk mendapatkan hiburan adalah untuk belajar. Bagi seorang comic belajar itu tak pernah berhenti, harus terus mau belajar. Malam itu saya khusus mempelajari karakter penonton stand up comedy di Indonesia. Materi-materi seperti apakah yang bisa bikin pecah dan membuat penonton gemuruh. Gaya delivery comic seperti apakah yang mudah untuk membuat penonton tertawa.

Ada beberapa comic yang menurut saya memiliki materi yang bagus, bahkan dari set up-nya saja sudah terlihat cerdas namun terkadang tak bisa nyambung dengan penonton sehingga terkesan nggak lucu. Padahal menurut saya materi tersebut lucu. Ada comic yang pernah memainkan materi di tempat lain - saya pernah nonton dan saat itu pecah habis - namun ketika dimainkan malam itu hanya retak.

Salah seorang rekan comic yang malam itu ikut main sempat ngobrol dengan saya. Rekan ini merasa penampilannya malam itu kurang pecah. Kami pun berdiskusi, apa yang bisa dilakukan dimasa mendatang supaya bisa pecah seperti comic lainnya. Saya mengatakan sejujurnya kepada rekan tersebut bahwa materinya bagus. Hanya saja "kelengahannya" adalah dia tidak berusaha nyambung dengan comic-comic yang main sebelumnya. 

Saya pun kemudian membagi pengalaman saya kepada rekan comic tersebut yang saya rangkum menjadi beberapa poin berikut ini:

1. Beberapa comic yang main sebelum dia memiliki karakter dan gaya delivery yang sama. Tiba-tiba rekan comic ini masuk dengan gaya yang lain. Maka penonton butuh waktu untuk "adjust / adapt". Ini nggak mudah dan butuh waktu.

2. Dalam suatu acara saya pernah sepanggung dengan Mongol. Saya tampil setelah Mongol. Saya sangat memahami karakter dan materi Mongol. Hal yang saya lakukan adalah kemudian saya menyiapkan beberapa materi yang berhubungan dengan seks. Saya memainkan "bit" awal yang tidak terlalu "jomplang" dengan gaya dan materi Mongol. Setelah itu saya melakukan "fade in" ke gaya observational dengan "cool delivery" yang telah menjadi ciri khas saya. Saya pun pecah berkeping-keping.

3. Ketika saya jadi tamu sebuah acara talk show di sebuah televisi swasta, saya di todong oleh host-nya melakukan stand up comedy selama 2 menit. Durasi yang sangat singkat untuk melakukan stand up comedy. Saya lihat penontonnya kebanyakan "kaum alay". Maka saya pun menurunkan sedikit ego saya dengan memainkan bit  "yang penting gerrr"

4. Hal yang menarik adalah, untuk penampilan di Stand Up Comedy Metro TV saya mempertahankan gaya saya 100%. Saya tidak terpengaruh dengan kritikan tim produksi yang mengatakan saya tidak seheboh comic yang lain. Saya tidak terpengaruh sama penonton di studio yang terkadang hanya tertawa ala kadarnya. Kenapa demikian? Saya menjadikan Stand Up Comedy Metro TV sebagai etalase. Saya tidak akan terpengaruh dengan comic yang tampil sebelum atau sesudah saya. Penonton di studio adalah penunjang show di studio. Target market saya justru berada diluar yang berada diantara penonton di rumah. Makanya tak heran saya lebih banyak diundang oleh perusahaan-perusahaan dibanding melakukan open mic di cafe-cafe.

Itulah jurus-jurus yang saya "sharing" kepada rekan comic yang bisa juga digunakan oleh comic lainnya. Seorang comic harus memiliki "diferensiasi dan persona" tapi jangan lupa untuk pintar membaca penonton dan lentur dengan keadaan.

Sebagai stand up comedian yang ikut mensosialisasikan dan mempopulerkan stand up comedy semenjak tahun 1998 saya sangat senang dan terharu menyaksikan Stand Up Comedy Festival 2013 yang berjalan dengan sukses.

*pecah = istilah yang digunakan stand up comedian Indonesia yang berarti berhasil bikin "ngakak penonton"