“Melalui buku ini Anda
bisa menemukan lentera jiwa dan motivasi, yang mendorong Iwel menjadi
sosok yang kita kenal dari ‘Republik Mimpi’. Kaum muda, belajarlah dari
buku ini.”
—Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., Pendiri Yayasan Rumah Perubahan
“Segar,
ringan, tetapi berbobot. Bacaan penuh inspirasi dan humor dari seorang
pelopor stand up comedy Indonesia. Ayo beli dan baca!”
—Tung Desem Waringin, Penulis Buku Bestseller Financial Revolution & Marketing Revolution
“Buku yang lucu berkelas, penuh ilmu, dan pengalaman nyata yang bernas.”
—Jamil Azzaini, Inspirator Sukses Mulia (www.JamilAzzaini.com)
“Motivasi tanpa aksi adalah omong kosong. Buku ini siap menampar Anda untuk segera bertindak!”
—Bong Chandra, Entrepreneur, Motivator, Penulis
“Motivation
+ action = pasangan ideal untuk menemani kehidupan. Buku ini berisi
kisah perjuangan dengan grafik emosi yang terkadang menukik tajam,
tetapi selalu siap untuk melesat lebih tinggi!”
—Asty Ananta, Artis dan Presenter
“Dengan
gaya khas yang menyelipkan candaan dalam kalimat-kalimatnya, Iwel
mengajak kita bermimpi dan memulai langkah kecil sampai akhirnya menjadi
loncatan besar. Kuncinya, ACTION!”
—Aviani Malik, Presenter Metro TV
Sabtu, 27 Juli 2013
Sabtu, 20 Juli 2013
Mengenal Stand Up Comedy
![]() |
| Pandji, Iwel, Ernest |
Ide tulisan ini muncul ketika suatu hari di bulan Juli 2005 saya diundang oleh seorang teman kesebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Disana sedang diadakan stand up comedy contest. Ini bukanlah comedy café melainkan kafe yang biasanya menyajikan hiburan musik top 40.
Pada saat itu sebuah stasiun televisi juga
mengadakan lomba lawak antarmahasiwa yang salah satu kriterianya memperlombakan
stand up comedy. Istilah stand up comedy pada tahun 2005 sudah mulai beredar di
masyarakat walau masih terasa asing.
Setelah saya revisi sedikit tulisan ini saya muat di blog saya. Tepat delapan tahun setelah tulisan ini pernah saya tulis dan simpan sebagai koleksi tulisan pribadi. Inilah isi tulisan saya delapan tahun yang lalu.
Sudah berapa bulan ini saya membawakan sesi stand up comedy di acara Bincang Bintang RCTI. Beberapa hari lalu di sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan diadakan stand up comedy contest. Apa sih sebenarnya stand up comedy
itu?
Stand up comedy adalah salah satu gaya komedi yang sangat populer di Amerika. Pelakunya disebut stand up comedian atau comic. Di negeri Paman Sam ini ada beberapa gaya komedi yang sangat populer diantaranya stand up comedy, sketch comedy dan props comedy. Masing-masing memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri. Disini saya akan mengulas tentang stand up comedy.
Stand up comedy adalah salah satu gaya komedi yang sangat populer di Amerika. Pelakunya disebut stand up comedian atau comic. Di negeri Paman Sam ini ada beberapa gaya komedi yang sangat populer diantaranya stand up comedy, sketch comedy dan props comedy. Masing-masing memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri. Disini saya akan mengulas tentang stand up comedy.
Agak sulit menterjemahkan stand up comedy ke
dalam bahasa Indonesia. Jika diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa
Indonesia, stand up comedy menjadi komedi berdiri. Kalau artinya komedi berdiri
maka semua pelawak di Indonesia bisa dikatakan stand up comedian. Hal ini
disebabkan hampir semua pelawak Indonesia melakukan pertunjukan komedi secara
berdiri. Pertunjukan komedi yang dilakukan secara berdiri tidak otomatis
disebut stand up comedy karena secara bahasa istilah ini tidak sekedar
mengatakan bahwa ini adalah pertunjukan yang dilakukan oleh komedian dengan
cara berdiri. Secara bahasa, stand up comedy merupakan istilah mandiri
sehingga sulit diterjemahkan secara harafiah. Namun demikian, stand up comedy
dapat dipahami.
Berbeda dengan pelawak Indonesia yang
cenderung melawak dalam grup, seorang stand up comedian melawak seorang diri di
hadapan pentontonnya. Ia membawakan materi lawakan yang lucu sesuai dengan gaya
lawakan yang dianutnya. Saya berbeda pendapat dengan seorang pengamat lawak Indonesia
yang mengatakan bahwa stand up comedy tidak harus dilakukan sendirian tetapi
juga bisa dilakukan secara grup yang terdiri dari tiga orang atau lebih.
Namun pengamat ini tidak dapat memberikan alasan yang berdasar mengenai
argumentasinya tersebut.
Berdasarkan pengamatan, belum saya temui stand
up comedian yang populer karena melakukannya dalam grup. Jerry Seinfeld, Eddy
Murfy, Steve Martin, dan Robin Williams melakukannya sendiri. Komedian Steve
Harvey, DL Huggley, Cedric The Entertainer dan Bernie Mac memang pernah
melakukan pertunjukan stand up comedy bersama yang mereka beri nama kings of comedy, namun mereka tetap tampil
sendiri-sendiri di atas panggung. Kalau komedi yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih, disebut dengan istilah sketch
comedy.
Dari pengamatan dan beberapa literature yang
saya baca mengenai stand up comedy terdapat
beberapa aliran dalam stand up comedy,
diantaranya observational yang dipopulerkan oleh Jerry Seinfeld. Aliran ini mengangkat kejadian
sehari-hari di tengah masyarakat berdasarkan observasi sang komedian. Misalnya,
kejadian di tempat cuci mobil, antri tiket bioskop, naik pesawat dan lain-lain.
Aliran topical hampir
mirip dengan observational. Bedanya, topical lebih
mengangkat isu-isu aktual, seperti kebijakan pemerintah atau berita utama media
massa. Aliran ini bisa kita lihat dari materi yang dibawakan oleh Jay Leno,
David Letterman dan Conan O’Brien dalam show televisi mereka
.
Aliran impresionist yang biasa dibawakan oleh Mike Myers maupun Jimmy Fallon umumnya menirukan
suara, penampilan atau tingkah laku seorang tokoh atau selebriti terkenal.
Misalnya, Jimmy Fallon dalam acara America’s Got Talent menirukan suara dan
gaya sejumlah comic terkenal seperti Jerry Seinfeld, Chris Rock, Robin Williams
dan lain-lain.
Ada juga aliran improvisational yang
sering dilakukan oleh Robin Williams, meskipun disebut inprovisasi namun
komedian ini tetap mempersiapkan garis besar materi lawakan yang akan
dibawakannya. Kemudian dia loncat dari suatu topik ke topik yang lain.
Disamping yang saya sebutkan tadi masih ada beberapa aliran stand up comedy lainnya.
Kerancuan masyarakat lawak Indonesia dalam
memandang stand up comedy seringkali terlihat. Ada orang yang mempunyai
beberapa koleksi cerita lucu kemudian membawakannya diatas panggung, berani
mengaku telah melakukan stand up comedy. Hal paling mendasar yang harus
diketahui adalah, stand up comedy sangat berbeda dengan telling jokes.
Inilah bagian dasar yang agak sulit dijelaskan, bahwa stand up comedy berbeda
dengan telling jokes. “people confuse stand up with telling jokes” (Judy
Carter, Stand Up Comedy – The Book, 1989)
Dalam membuat materi lawakan ada dua istilah
dasar yang harus diketahui oleh seorang stand up comedian yaitu setup
dan punchline. Setup berisi informasi dan petunjuk mengenai
cerita yang dibawakan oleh komedian. Misalnya tentang angkutan umum yang payah,
nasib menjadi jomblo, atau masalah korupsi. Sedangkan punchline berisi
bagian cerita yang membuat penonton tertawa. Punchline harus lucu karena apabila tidak lucu maka
cerita akan menjadi sia-sia. Penonton tidak memberikan reaksi positif sehingga
komedian akan bisa kehilangan auranya.
Setup dan puncline merupakan satu
kesatuan yang utuh. Meskipun terpisah namun memiliki korelasi satu dengan yang
lain. Contoh :
Saya paling nggak tega kalau dapat tempat duduk terus melihat perempuan berdiri
di bus. Kalau melihat perempuan berdiri saya langsung pura-pura tidur.
Disini kita lihat setup nya : Saya
paling nggak tega kalau dapat tempat duduk
terus melihat perempuan berdiri di bus. Inilah informasi dan
petunjuk cerita yang dibawakan oleh komedian. Lazimnya jika seorang pria
melihat perempuan berdiri di bus maka dia akan mempersilahkan perempuan
tersebut untuk duduk. Namun pada punchline atau bagian yang membuat
penonton tertawa, komedian malah berkata “kalau melihat perempuan berdiri
saya langsung pura-pura tidur.”
Punchline juga
bisa berisi sindiran yang mengajak penonton untuk menertawakan diri sendiri,
biasanya ini sering kita temui pada materi observasional Jerry Seinfeld.
Contoh, kalau menginap di hotel, yang paling dulu saya periksa adalah kamar
mandinya. Berapa handuk yang kira-kira bisa dibawa pulang. Setupnya adalah saya kalau menginap di hotel yang
paling dulu saya periksa adalah kamar mandinya. Disini penonton bisa
mengira sang komedian seseorang yang sangat teliti dalam kebersihan kamar
mandi. Ternyata pada punchline dia mengatakan “berapa handuk yang bisa
dibawa pulang.” Disini komedian mengajak penonton untuk menertawakan diri
sendiri, karena kecenderungan beberapa orang yang suka menginap di hotel suka
membawa handuk pulang.
Contoh berikut adalah contoh joke yang
tidak bisa dikategorikan sebagai materi stand up comedy:
Seorang perampok melakukan perampokan
dalam sebuah rumah, si perampok berkata
“Saya punya kebiasaan selalu membunuh korban yang dirampok, dan sebelum
saya bunuh, saya harus tahu dulu nama korban.”
Lalu perampok bertanya kepada nyonya rumah "sebutkan nama anda,
sebelum saya bunuh.” Dengan ketakutan Nyoya rumah menjawab "e...mm, nama
saya Sulastri.” Perampok dengan mata
terbelalak bergumam "itu adalah nama ibuku, beruntung nyonya tidak jadi aku bunuh.” Lalu perampok beralih kepada suami korban
"Nah kalo bapak siapa namanya?. Sambil ketakutan sisuami menjawab “ nama saya Joko, tapi orang sering memanggil
saya Sulastri.”
Apabila joke di atas dibawakan di panggung
maka lebih tepat disebut dengan telling jokes atau anekdot.
Sebenarnya masih banyak hal yang dapat
dijelaskan mengenai stand up comedy. Semoga dengan memahami hal yang mendasar
seperti setup dan punchline membuat kita paham tentang stand up comedy.
Seperti halnya pantun yang berbeda dengan puisi, begitu pula halnya stand up comedy
dengan telling jokes. Sangatlah tidak lucu kalau ada orang yang mengaku stand
up comedian tetapi tidak mengerti tentang stand up comedy.
Senin, 15 Juli 2013
Cara Mudah Belajar Stand Up Comedy
1. Belajar dan berlatih public speaking. Kemampuan public speaking yang baik sangat membantu untuk menjadi seorang stand up comedian yang baik. Ini sangat membantu dalam delivery jokes dan memainkan emosi yang berhubungan dengan joke yang dimainkan.
Sebagai studi kasus di Indonesia, kemampuan public speaking sebagian stand up comedian dipelajari secara otodidak. Ada diantara mereka yang sudah terbiasa ngocol dilingkungan pergaulan atau tongkrongan. Sudah terbiasa menceritakan berbagai macam cerita lucu dalam pergaulan. Hingga sudah memiliki modal ngocol untuk menjadi stand up comedian. Bagi yang belum terbiasa bicara didepan umum tentu lebih baik belajar public speaking karena stand up comedy bukan hanya sekedar berbicara didepan umum tapi lebih dari itu bicara dan membuat tertawa penonton.
Sebagai studi kasus di Indonesia, kemampuan public speaking sebagian stand up comedian dipelajari secara otodidak. Ada diantara mereka yang sudah terbiasa ngocol dilingkungan pergaulan atau tongkrongan. Sudah terbiasa menceritakan berbagai macam cerita lucu dalam pergaulan. Hingga sudah memiliki modal ngocol untuk menjadi stand up comedian. Bagi yang belum terbiasa bicara didepan umum tentu lebih baik belajar public speaking karena stand up comedy bukan hanya sekedar berbicara didepan umum tapi lebih dari itu bicara dan membuat tertawa penonton.
2. Belajar dan berlatih formula menulis materi stand up comedy. Secara sederhana materi stand up comedy yang seringkali juga disebut joke terdiri dari dua bagian yaitu set up dan punchline. Meskipun set up bukan merupakan bagian yang lucu pada sebuah joke namun set up merupakan bagian yang penting sebagai pengantar kepada punchline. Set up ini singkat dan tidak bertele-tele. Jika set up terlalu panjang maka nanti jadinya bukan stand up comedy melainkan story telling. Sedangkan punchline merupakan bagian yang lucu dalam sebuah joke.
Sebuah artikel menyebutkan perempuan lebih banyak bicara daripada pria (set up)
Mungkin ini sebabnya GPS menggunakan suara perempuan (punchline)
Stand up comedian akan membangun ekspektasi penonton melalui set up. Kemudian ekspektasi ini dibelokan atau dipatahkan melalui punchline. Inilah yang kemudian menimbulkan kelucuan.
Kemampuan public speaking dan menulis materi stand up comedy merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Jika memiliki kemampuan public speaking namun tidak memiliki kemampuan menulis materi stand up comedy maka akan sulit menjadi seorang stand up comedian. Secara umum stand up comedian menulis sendiri materinya. Boleh saja stand up comedian memainkan materi orang lain, tentu saja dengan seijin penulis materi tersebut. Bagi yang memiliki kemampuan public speaking namun tidak memiliki kemampuan menulis joke, profesi yang cocok adalah sebagai pembawa acara atau pembicara. Menjadi pembawa acara dan pembicara tidak dituntut untuk lucu.
Mereka yang memiliki kemampuan menulis materi stand up comedy namun tidak memiliki kemampuan public speaking maka yang terjadi adalah tidak mampu menghantarkan joke dengan baik. Akibatnya grogi dipanggung, bicara belepotan hingga lupa sama materi yang sudah dipersiapkan. Mereka yang memiliki kemampuan menulis joke tapi tidak memiliki kemampuan public speaking, lebih cocok sebagai penulis naskah humor atau menjadi tim kreatif yang membantu memberikan materi-materi kepada stand up comedian.
Jika sudah memiliki dua modal dasar diatas sebaiknya ditambah dengan pengetahun mengenai istilah-istilah yang terdapat dalam stand up comedy. Istilah-istilah ini bisa dipelajari dari berbagai buku stand up comedy dan melalui internet. Selain itu menambah referensi pribadi dengan menonton secara langsung pertunjukan stand up comedy dan menyaksikan rekaman stand up comedy dari stand up comedian yang sudah terkenal.
Selanjutnya mulai memasarkan diri sebagai stand up comedian. Ikut open mic dan audisi. Setelah itu buat strategi karir. Target apa yang diinginkan sebagai seorang stand up comedian. Apakah job manggung yang banyak, program televisi atau main film. Setelah mengetahui target, langkah selanjutnya adalah action untuk mewujudkan target tersebut.
Sabtu, 06 Juli 2013
Mengembangkan Stand Up Motivation
12 Oktober 2011 saya menerima tawaran untuk mengisi acara di PT. Rajawali Nusantara Indonesia. Menariknya saya diminta bukan untuk menampilkan stand up comedy melainkan memberikan motivasi ala motivator. Alasannya pihak panitia ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Saya dipilih karena dianggap mampu untuk melakukan itu. Sebelumnya saya juga pernah diundang oleh beberapa perusahaan untuk memberikan motivasi dengan menceritakan perjalanan karir saya sebagai komedian dan pembawa acara.
Sebenarnya saya sudah memiliki ketertarikan dengan dunia motivasi semenjak akhir tahun 90-an dengan membaca secara rutin tulisan Gede Prama disebuah harian nasional. Ketertarikan saya dengan tulisan Gede Prama membuat saya akhirnya bisa berkenalan dengan Gede Prama. Kami pun pernah membuatkan demo program motivasi untuk televisi. Kami melakukan suting di taman bunga cibubur. Saya yang menyutradarai merangkap sebagai juru kamera dan editor.
Tahun 2000-an motivator mulai banyak bermunculan. Saya pun mengamati beberapa diantara mereka. Saya terkadang suka terheran-heran sendiri beberapa materi yang disampaikan oleh motivator tersebut agak mirip dengan yang pernah saya pelajari hanya berbeda cara penyampian dan sudut pandang. Dalam buku motivaction: mimpi atau mati! saya menulis pernah belajar agama dengan KH. Arya Jaka Lelana. Melalui guru saya inilah saya sering sekali mendengarkan ungkaian kata-kata motivasi. Bahkan sebelum AA Gym populer saya juga pernah bertemu dengan kiai yang terkenal dengan manajemen qolbunya di rumah guru saya tersebut. Sahabat saya Uje juga sering berkunjung dan berdiskusi berbagai untaian kata penuh makna dengan KH. Arya Jaka Lelana.
Ketika merintis karir sebagai stand up comedian pernah terlintas dalam pikiran saya untuk beralih menjadi seorang motivator. Niat ini saya urungkan karena bagi saya lebih menantang untuk tetap mengembangkan stand up comedy dibandingkan menjadi seorang motivator.
Setelah memberikan Motivasi di PT. Rajawali Nusantara Indonesia saya melakukan evaluasi. Peserta pada saat itu sangat termotivasi dengan apa yang saya sampaikan. Saya juga menyelipkan humor diantara materi motivasi. Hanya saja saya berpikir gaya saya saat itu terjebak menjadi seorang motivator sehingga identitas saya sebagai komedian agak tengelam. Saya bisa disebut lebih menjadi motivator humor. Meskipun ada kata humor dibelakangnya, penggunaan kata motivator didepan menunjukan saya ini lebih berperan sebagai seorang motivator. Ada istilahnya motivator super, motivator cinta, nah ini motivator humor yang lebih menekankan pada sisi motivatornya.
Untuk tetap menunjukan identitas saya sebagai stand up comedian kemudian saya akhirnya menemukan istilah yang cocok jika saya memberikan motivasi yaitu stand up motivation. Memadukan stand up comedy dengan motivasi. Kata stand up berada di depan sehingga bisa dimaknai menjadi stand up comedian yang memberikan motivasi. Dalam menyampaikan materi motivasi tetap dengan gaya stand up comedy.
Setelah buku motivaction: mimpi atau mati! terbit saya banyak diundang untuk memberikan motivasi berdasarkan isi buku yang saya tulis. Saya pun selalu menyebutkan bahwa sesi yang saya isi adalah sesi stand up motivation. Bahkan ketika menjadi seorang trainer dengan topik seputar leadership, team building dan komunikasi, saya tetap mempertahankan ciri sebagai stand up comedian.
Jumat, 05 Juli 2013
Pemasaran Narsis
Bagi yang sudah membaca buku Motivaction: Mimpi atau Mati! tentunya sudah tahu kalau Bab 2 buku tersebut membahas tantang pemasaran diri. Dalam sub bab pemasaran diri saya menulis tentang pemasaran narsis. Kenapa saya memberikan istilah pemasaran narsis? karena menurut saya ini adalah era dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang sama bernarsis ria untuk memasarkan diri. Tujuannya bukan hanya sekedar untuk mendapatkan job tapi juga bisa hanya sekedar untuk eksis.
Banyak sekali contoh pemasaran narsis yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Lihat aja twitter yang sekarang menjadi ajang untuk bernarsis ria. Ada yang ingin kelihatan pintar, ada yang ingin kelihatan kritis, bahkan motivator-motivator dadakan bermunculan di ranah twitter yang siap untuk menebar aneka ragam kata motivasi. Mulai dari urusan keuangan hingga masalah jodoh. Contoh lain nggak usah jauh-jauh yaitu saya sendiri he he he. Saya juga
sering menjadikan twitter
sebagai ajang bernarsis ria utk memasarkan diri. Supaya eksis dan dapat
job tentunya. Dalam buku motivaction saya juga meyebutkan alasan saya
lebih suka menggunakan kata memasarkan diri, soalnya kalau jual diri
kesannya gimana gitu ciiin.
Sekarang ini artis, politisi, siapa saja termasuk saya, mau muncul di tivi biasanya suka broadcast, ngetwit .., apa itu nggak narsis. Jangan lupa ya bentar lagi nonton tivi, ada saya lho di tivi. Saya juga sering mendapatkan link berita online dari politisi tentang berita-berita yang terkait dengan dirinya.
Ada orang yang pede mendeklarasikan diri sebagai capres .., kurang narsis gimana coba .., inilah era narsis. Media sosial, gadget dan teknologi mendukung semua orang untuk narsis dan memasarkan diri secara narsis.
Pakar pemasaran Yuswohady dalam tulisannya konsumen narsis yang dimuat di www.yuswohady.com menyebutkan "kini, ketika SMS, BBM, Facebook, Twitter, YouTube, atau blog memungkinkan kita mendapatkan exposure itu dengan murah dan mudah, maka keinginan kita untuk dilihat dan diperhatikan (saya sebut: “naluri narsis”) pun menjadi terbebaskan dan terlampiaskan".
Pakar pemasaran Yuswohady dalam tulisannya konsumen narsis yang dimuat di www.yuswohady.com menyebutkan "kini, ketika SMS, BBM, Facebook, Twitter, YouTube, atau blog memungkinkan kita mendapatkan exposure itu dengan murah dan mudah, maka keinginan kita untuk dilihat dan diperhatikan (saya sebut: “naluri narsis”) pun menjadi terbebaskan dan terlampiaskan".
Sudah susah di era sekarang menarik simpati dengan gaya
low profile. Maksudnya low profile suka sok merendah
"jangan sayalah .., saya ini nggak bisa apa-apa." Atau "ah saya biasa
aja kok". Jamil Azzaini dalam tulisannya yang berjudul sok rendah hati yang dimuat di www.jamilazzaini.com menyebutkan terkadang ada orang yang sok rendah hati dengan mengatakan, “Saya tidak
bisa apa-apa. Saya tidak punya kemampuan apa-apa.” Menurut Jamil orang
ini secara tidak langsung menghina Sang Pencipta. Seolah-olah ia
menganggap bahwa Allah SWT menciptakan produk gagal di muka bumi.
Walaupun namanya pemasaran narsis namun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan pemasaran narsis yaitu kita harus mempersiapkan produk yang akan kita pasarkan dengan sebaik-baiknya. Dalam memasarkan diri, produk yang dipasarkan adalah diri sendiri maka kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Jangan sampai ketika kita telah berhasil menarik perhatian orang dengan kenarsisan kita tetapi kemampuan yang kita berikan masih jauh dari harapan.
Jumat, 21 Juni 2013
Sejarah Lawak Tunggal Dan Stand Up Comedy Di Indonesia
Kadir pelawak senior jebolan Srimulat pernah bertanya
kepada saya Wel, apa
bedanya lawak dan stand
up comedy? Kok saya nggak menemukan bedanya? Sama saja!
Ini pertanyaan yang seringkali saya terima. Saya rasa
wajar jika pertanyaan ini muncul karena stand up comedy
baru sekitar dua tahun ini populer di masyarakat Indonesia meskipun saya sudah
mensosialisasikan sejak tahun 1998. Mungkin pertanyaan ini muncul karena
masyarakat melihat penampilan beberapa stand up comedian
di Indonesia tidak berbeda dengan penampilan pelawak.
Dalam buku MotivAction: Mimpi atau Mati! saya menyebutkan
antara pelawak dan stand
up comedian
bisa dikatakan serupa tetapi tidak sama. Lawak merupakan akar komedi asli
Indonesia yang dirintis oleh pelawak-pelawak terdahulu, sedangkan stand up comedy
dapat dikatakan sebagai komedi impor
.
Sebelum kita melihat sejarah stand up comedy di Indonesia
kita tengok sejenak sejarah stand up comedy dari
negeri asalnya Amerika Serikat. Ada perbedaan pendapat mengenai kapan istilah stand up comedy
mulai digunakan. Ada yang menyebut tahun 50-an ada juga yang mengatakan tahun
60-an.
Dalam tulisannya The History Of
Comedy: The First Stand Up, komedian Jim Mendrinos menyebutkan istilah stand up comedy
dikenalkan tahun 1966 mengacu pada the Oxford English
Dictionary dan Webster’s Collegiate Dictionary. Andrea Shannon
Prussing-Hollowell dari Georgia State University dalam makalahnya Standup Comedy as
Artistic Expression: Lenny Bruce, the 1950s, and American Humor menyebutkan
stand up comedy
sudah dikenal sejak tahun 50-an. Hollowell menulis sejumlah nama yang
bersinggungan dengan stand
up comedy di 50-an seperti Jack Benny, Fred Allen, and Bob Hope.
Ternyata pada era yang sama dengan Jack Benny, Fred Allen
dan Bob Hope, Di Jakarta (Indonesia) tahun 50-an mulai muncul pelawak tunggal.
Tahun 1953 Bing Slamet berhasil menjadi juara lomba lawak tunggal. Ini
menunjukan sudah mulai banyak pelawak-pelawak tunggal bermunculan sehingga
tahun 1953 biasa diadakan lomba lawak tunggal. Trend lawak tunggal merambah ke
kota lain. Tahun 1957 Eddy Sud, S Bagyo dan Iskak menjadi juara lomba
lawak tunggal di Yogyakarta. Dari kota kembang Bandung muncul pelawak Us Us
yang kemudian hari dijuluki sebagai Jerry Lewis Indonesia.
Entah kenapa sebabnya Bing Slamet tahun 1958 memutuskan
meninggalkan lawak tunggal dengan membentuk grup lawak Trio Los Gilos bersama Mang
Cepot dan Mang Udel. Duet Mang Cepot dan Mang Udel sudah dikenal sejak tahun
1951 lewat siaran humor mereka di RRI. Trio Los Gilos inilah yang bisa disebut
sebagai akar lawakan modern di Indonesia. Kehadiran dan popularitas Los Gilos,
memancing para pelawak tunggal seperti Eddy Sud, S Bagyo dan Iskak membentuk
grup lawak EBI. Akhir 50-an era pelawak tunggal mulai hilang digantikan era
grup lawak trio yang bertahan hingga akhir tahun 60-an.
Era grup lawak kwartet dimulai tahun 1967 dengan
terbentuknya Kwartet Kita yang beranggotakan Eddy Sud, Bing Slamet, Ateng dan
Iskak. Kwartet Kita berubah nama menjadi kwartet Jayakarta, kemudian lebih
dikenal dengan nama Kwartet Jaya. Pada era ini bermunculan grup lawak yang
beranggota empat orang seperti S Bagyo CS yang beranggotakan S Bagyo,
Darto Helm, Diran, Sol Soleh. Ada juga Surya Grup dengan formasi Jalal,
Herry Koko, Susi Sunaryo, Prapto. Serta grup lawak lainnya.
Selain nama-nama pelawak yang telah disebutkan
sebelumnya, ada sebuah nama yang tidak bisa lepas dalam sejarah dunia lawak
Indonesia yaitu Kris Biantoro. Kemampuannya memainkan lelucon membuat Kris
Biantoro juga disebut-sebut sebagai pelawak tunggal generasi awal. Kris
Biantoro sempat menjadi additional player
grup lawak Kwartet Jaya menggantikan Bing Slamet yang beristirahat karena sakit
hingga Bing Slamet wafat. Kemudian hari Kris Biantoro lebih banyak berkiprah
sebagai penyanyi dan pembawa acara disamping main dalam sejumlah film. Kris
Biantoro pula yang mengusulkan nama grup lawak Bagito kepada Mi’ing dan
kawan-kawan yang berarti bagi roto (bagi rata).
Ada juga nama Benyamin S. Meskipun Benyamin lebih fokus
menjadi penyanyi lagu-lagu betawi dan main film, kemampuan Benyamin sebagai
pelawak tunggal tidak diragukan lagi. Benyamin memiliki warna sendiri. Hingga
akhir hayatnya Benyamin tidak pernah tercatat bergabung secara permanen dengan
sebuah grup lawak. Benyamin lebih suka menyebut dirinya sebagai pelawak lepas.
Artinya dia bisa bermain dengan grup lawak manapun tanpa terikat. Benyamin
mengeluarkan beberapa kaset lawak bersama Eddy Sud dan Srimulat.
Us Us dapat disebut sebagai pelawak yang cukup lama
bertahan sebagai pelawak tunggal. Tahun 70-an Us Us pun akhirnya mengikuti
jejak pelawak tunggal lain untuk membentuk grup lawak. Us Us mendirikan grup
lawak D’Bodors bersama Sup Yusup dan Rudi Djamil. Formasi grup ini berubah pada
tahun 1983 ketika posisi Sup Yusup dan Rudi Djamil digantikan oleh Yan Asmi dan
Kusye.
Era 70-an trend lawak tunggal kembali dihidupkan dengan
munculnya berbagai lomba lawak tunggal. Lomba ini memunculkan nama Otong Lenon
dan Memet Mini. Tahun 80-an lomba lawak tunggal juga sering diadakan. Nama-nama
yang muncul di era ini seperti Komar, Atet Zakaria, Ali Nurdin, dan Otong Lalo.
Menurut saya lomba lawak tunggal pada masa ini, oleh
pelawak sering dijadikan sebagai ajang untuk mencari teman untuk membentuk grup
lawak. Juara-juara lomba lawak tunggal era 70-an dan 80-an pada akhirnya banyak
membentuk grup lawak. Memet Mini sempat membentuk grup lawak Billy bersama Atet
Zakaria dan Jack John. Komar bersama Ogut, Kimung dan Firman membentuk Tom Tam
grup. Ali Nurdin bergabung dengan Doyok Grup. Otong Lalo membentuk grup lawak
Jali-Jali bersama Yanto Stuck On You, Cacan dan Bonang. Otong Lenon sempat
membentuk Trio Semekot. Tiga orang personil grup lawak Sersan Prambors adalah
alumni lomba lawak tunggal yaitu Pepeng, Khrisna Purwana dan Nana Krip.
Saya menilai pelawak-pelawak tunggal yang kemudian harus
membuat grup di era itu karena kurangnya ruang bagi pelawak tunggal untuk
tampil. Slot lawak yang disediakan oleh TVRI lebih ditujukan untuk grup lawak.
Acara-acara panggung juga lebih membuka kesempatan kepada grup lawak. Disamping
itu kebiasaan penonton yang sudah terbiasa melihat acara komedi ditampilkan
secara berkelompok. Seperti ludruk, ketoprak, lenong dan Srimulat yang
dimainkan oleh sekumpulan pemain.
Saya sendiri juga terjebak bertahun-tahun pada kondisi
ini. Ketika merantau ke Jakarta tahun 1989 target pertama saya adalah membentuk
grup lawak. Kondisi ini saya jalani bertahun-tahun. Dari tahun 1989 hingga
tahun 1997 waktu saya habis hanya untuk membentuk grup lawak. Bukanlah
pekerjaan mudah untuk menemukan pelawak lain yang memiliki visi dan misi yang
sama dalam membentuk sebuah grup lawak.
Tahun 1997 Setelah menonton film dokumenter tentang Bob
Hope dan menyaksikan sitkom Seinfeld, saya memutuskan untuk bersolo karir
sebagai pelawak tunggal. Dalam buku Motivaction: Mimpi atau Mati! saya menulis
tahun 1998 rekan saya Diaz Hendropriyono yang sekolah di Amerika yang
memperkenalkan istilah stand up comedy
kepada saya. Sejak tahun 1998 itulah secara resmi di kartu nama saya tulis
profesi: stand up
comedian.
Memperkenalkan stand up comedy
pada saat itu bukanlah perkara yang mudah. Hingga akhirnya tahun 2004 saya
mempunyai ide untuk membuat pementasan stand up comedy
pertama di Indonesia. Tujuannya agar bisa diliput oleh media massa, sehingga
masyarakat lebih paham mengenai stand up comedy.
6 Maret 2004 saya dengan modal nekat dan tekad saya melakukan pementasan stand up comedy
di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan inilah yang kemudian menghantarkan saya
untuk melakukan stand
up comedy di sejumlah tv nasional seperti acara Jayuz Pliss Dong Ah TV7
(sekarang Trans7) dan Bincang Bintang RCTI.
Disisi lain, Ramon Papana pemilik comedy café juga aktif
mempopulerkan stand
up comedy dengan membuka workshop mengenai
stand up comedy
serta rutin mengadakan open mic di comedy
café. Kami pun sering berbincang mengenai perkembangan stand up comedy di
Indonesia. Kemudian muncul ide untuk merekam penampilan saya melakuan stand up
comedy di comedy cafe bersama beberapa stand up comedian pemula lainnya
melakukan open mic untuk di upload di youtube. Kamis 21 Oktober 2010 saya
melakukan open mic di comedy cafe. Penampilan singkat ini direkam dan di upload
di youtube.
Setahun setelah itu, Ramon membuka kesempatan kepada stand
up comedian pemula untuk melakukan open mic di comedy cafe. Twitter yang saat
itu mulai tren membuat informasi mengenai open mic ini cepat tersebar. Pertengahan
tahun 2011 mulai banyak stand up comedian yang melakukan open mic di comedy cafe.
Ramon pula yang mencetuskan ide untuk merekam sejumlah penampilan stand up
comedian dalam open mic di comedy cafe untuk di unggah di
youtube. Ini memberikan dampak positif dalam perkembangan stand up comedy di
tanah air.
Pandji Pragiwaksono yang
sebelum dikenal sebagai presenter dan Raditya Dika yang dikenal sebagai penulis buku juga ikut
menekuni stand up comedy secara serius. Open mic yang
mereka lakukan di comedy café 13 Juli 2011 diunggah ke youtube dan
mendapatkan respon yang sangat luar biasa karena Pandji dan Raditya Dika
memiliki banyak follower di twitter. Momentum ini dibaca oleh Metro TV dan
Kompas TV dengan membuat program stand up comedy. Nama Pandji dan Raditya Dika
semakin dikenal sebagai stand up comedian setelah Kompas TV memberi kesempatan
kepada mereka berdua menjadi pembawa acara kompetisi stand up comedy Indonesia.
Komunitas-komunitas stand
up comedy pun bermunculan di seluruh penjuru nusantara.
Menjawab pertanyaan diawal tulisan, apa bedanya stand up comedy
dengan lawak tunggal? Secara format tidak ada bedanya. Sama-sama dimainkan oleh
satu orang. Bedanya, melawak itu bisa lebih bebas, tidak terpaku dalam sebuah
pakem. Materi yang dibicarakan bentuknya bebas asalkan lucu. Boleh cerita fiksi
yang berpanjang-panjang. Misalnya pelawak menceritakan tentang pengalaman
menolong bapaknya yang kecebur sumur. Cerita itu fiksi semata, kemudian dalam
menceritakannya disertai dengan bumbu-bumbu lucu supaya seru. Itulah lawak.
Sedangkan stand up comedy
memiliki berbagai pakem yang telah disepakati. Seperti adanya set up dan punchline. Set up yang nggak
boleh bertele-tele. Jika set up terlalu
panjang maka kemudian akan dikategorikan sebagai story telling.
Topik yang dibicarakan dalam stand up comedy adalah
nyata bukan fiksi. Bukan berarti nggak boleh membicarakan tokoh fiksi. Seorang stand up comedian
harus memiliki point
of view terhadap sebuah hal yang terjadi. Misalnya seorang stand up comedian
akan membicarakan tentang film Superman (Man of Steel)
“Saya kalau kecopetan nggak bakalan mau ditolong sama
superman” (set up)
“Isi dompet nggak seberapa, nanti gedung hancur bisa
sepuluh” (punchline)
Stand up comedian yang menjadikan headline atau
berita surat kabar sebagai set up maka dia
disebut memiliki gaya topical seperti
Jay Leno. Jika dia menjadikan pengamatan sehari-hari sebagai set up maka dia
disebut bergaya observational
seperti Jerry Seinfeld. Stand up comedian
yang suka menirukan gaya bicara dan gerak tubuh tokoh terkenal atau
selebriti maka dia disebut bergaya impressionist,
seperti yang sering dilakukan Jimmy Fallon.
![]() |
| Iwel Sastra bersama pemilik Comedy Cafe Ramon Papana |
Iwel
Sastra
Komedian
& Pakar Motivasi
follow @iwelsastra19
Minggu, 16 Juni 2013
Belajar Dari Stand Up Comedy Festival 2013
Minggu 16 Juni 2013 saya menyempatkan hadir untuk menonton Stand Up Comedy Festival 2013 yang diselenggarakan oleh @standupmetrotv dan @standupindo. Suatu kehormatan saya bisa duduk menyaksikan acara ini dari kursi VIP bersama ribuan penonton yang memadati Hall Basket Senayan tempat acara dilangsungkan. Berhubung saya datang ke acara malam, saya hanya bisa menyaksikan penampilan 14 comic yang malam itu ditutup dengan penampilan Pandji Pragiwaksono.
Niat utama saya menyaksikan acara ini selain untuk mendapatkan hiburan adalah untuk belajar. Bagi seorang comic belajar itu tak pernah berhenti, harus terus mau belajar. Malam itu saya khusus mempelajari karakter penonton stand up comedy di Indonesia. Materi-materi seperti apakah yang bisa bikin pecah dan membuat penonton gemuruh. Gaya delivery comic seperti apakah yang mudah untuk membuat penonton tertawa.
Ada beberapa comic yang menurut saya memiliki materi yang bagus, bahkan dari set up-nya saja sudah terlihat cerdas namun terkadang tak bisa nyambung dengan penonton sehingga terkesan nggak lucu. Padahal menurut saya materi tersebut lucu. Ada comic yang pernah memainkan materi di tempat lain - saya pernah nonton dan saat itu pecah habis - namun ketika dimainkan malam itu hanya retak.
Salah seorang rekan comic yang malam itu ikut main sempat ngobrol dengan saya. Rekan ini merasa penampilannya malam itu kurang pecah. Kami pun berdiskusi, apa yang bisa dilakukan dimasa mendatang supaya bisa pecah seperti comic lainnya. Saya mengatakan sejujurnya kepada rekan tersebut bahwa materinya bagus. Hanya saja "kelengahannya" adalah dia tidak berusaha nyambung dengan comic-comic yang main sebelumnya.
Saya pun kemudian membagi pengalaman saya kepada rekan comic tersebut yang saya rangkum menjadi beberapa poin berikut ini:
1. Beberapa comic yang main sebelum dia memiliki karakter dan gaya delivery yang sama. Tiba-tiba rekan comic ini masuk dengan gaya yang lain. Maka penonton butuh waktu untuk "adjust / adapt". Ini nggak mudah dan butuh waktu.
2. Dalam suatu acara saya pernah sepanggung dengan Mongol. Saya tampil setelah Mongol. Saya sangat memahami karakter dan materi Mongol. Hal yang saya lakukan adalah kemudian saya menyiapkan beberapa materi yang berhubungan dengan seks. Saya memainkan "bit" awal yang tidak terlalu "jomplang" dengan gaya dan materi Mongol. Setelah itu saya melakukan "fade in" ke gaya observational dengan "cool delivery" yang telah menjadi ciri khas saya. Saya pun pecah berkeping-keping.
3. Ketika saya jadi tamu sebuah acara talk show di sebuah televisi swasta, saya di todong oleh host-nya melakukan stand up comedy selama 2 menit. Durasi yang sangat singkat untuk melakukan stand up comedy. Saya lihat penontonnya kebanyakan "kaum alay". Maka saya pun menurunkan sedikit ego saya dengan memainkan bit "yang penting gerrr"
4. Hal yang menarik adalah, untuk penampilan di Stand Up Comedy Metro TV saya mempertahankan gaya saya 100%. Saya tidak terpengaruh dengan kritikan tim produksi yang mengatakan saya tidak seheboh comic yang lain. Saya tidak terpengaruh sama penonton di studio yang terkadang hanya tertawa ala kadarnya. Kenapa demikian? Saya menjadikan Stand Up Comedy Metro TV sebagai etalase. Saya tidak akan terpengaruh dengan comic yang tampil sebelum atau sesudah saya. Penonton di studio adalah penunjang show di studio. Target market saya justru berada diluar yang berada diantara penonton di rumah. Makanya tak heran saya lebih banyak diundang oleh perusahaan-perusahaan dibanding melakukan open mic di cafe-cafe.
Itulah jurus-jurus yang saya "sharing" kepada rekan comic yang bisa juga digunakan oleh comic lainnya. Seorang comic harus memiliki "diferensiasi dan persona" tapi jangan lupa untuk pintar membaca penonton dan lentur dengan keadaan.
Sebagai stand up comedian yang ikut mensosialisasikan dan mempopulerkan stand up comedy semenjak tahun 1998 saya sangat senang dan terharu menyaksikan Stand Up Comedy Festival 2013 yang berjalan dengan sukses.
*pecah = istilah yang digunakan stand up comedian Indonesia yang berarti berhasil bikin "ngakak penonton"
Langganan:
Postingan (Atom)


