Selasa, 31 Maret 2015

Tips Public Speaking : 3 Hal Yang Harus Dikuasai Pembicara

Secara mendasar ada tiga hal yang sebaiknya dikuasai oleh pembicara atau trainer ketika tampil dihadapan audience. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Kuasai ruangan. Ini bukan berarti Anda menguasai ruangan dalam arti harus memiliki ruangan tersebut, he he he. Kuasai ruangan artinya Anda sangat paham dengan situasi diruangan tersebut. Seperti posisi panggung, kualitas pengeras suara, posisi duduk audience. Termasuk Anda sebaiknya mengetahui ruangan tersebut nyaman atau tidak. Bisa jadi AC ruangan tersebut tidak memadai sehingga banyak audience yang mulai gelisah karena kegerahan atau sebaliknya AC di ruangan tersebut terlalu dingin yang membuat frekuensi kebelet pipis audience meningkat. Anda akan kesulitan mengambil perhatian audience yang gelisah meskipun materi dan cara penyajian Anda sangat menarik.

2. Kuasa materi. Ini bagian yang sangat penting karena ketika Anda menjadi pembicara atau trainer yang dinantikan oleh audience Anda adalah materi yang akan disampaikan. Menguasai materi bukan hanya mengenai isi materi namun juga cara penyajian dan penyampaiannya. Pengusaan materi ini membuat Anda terlihat seperti ahli yang tentu saja bisa meyakinkan dan mempesona audience. Istilahnya MTP, materi tebar pesona, wk wk wk.

3. Kuasai audience. Begitu Anda sudah menguasai ruangan dan menguasai materi maka Anda akan mudah menguasai audience. Mereka akan menikmati kata demi kata yang keluar dari mulut Anda. Bahkan mereka merasa rugi berpaling walau hanya sedetik saja karena takut kehilangan poin-poin penting. Mereka menahan diri untuk menoleh ke gadget mereka walaupun ada pesan mesra dari pasangannya, hi hi hi. Namun jika audience lebih sering menoleh ke gadget mereka daripada memperhatikan Anda berarti sebagai pembicara atau trainer Anda telah gagal menguasai audience.

Iwel Sastra
Stand Up Motivator No1 Indonesia - Professional Corporate Trainer - Pelopor Stand Up Comedy Indonesia

Senin, 30 Maret 2015

Menjadi Bos Yang Menyenangkan

Melalui akun twitternya, rekan saya Prasetya M Brata yang dikenal sebagai meta coach dan penulis buku Provokasi menulis, NLP mengajarkan ‘scramble technique’. Ini adalah teknik ketika ada seorang bawahan sedang dimarahi bos, untuk menghilangkan rasa bete maka ia membuat wajah dan suara bosnya seperti badut sehingga terlihat lucu. Menurut Prasetya, mengubah wajah atasan menjadi seperti badut dan suaranya menjadi seperti Donald Bebek, agar kita tidak bete pada atasan yang sedang marah itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Saya setuju dengan pernyataan Prasetya. Namun sebagai atasan Anda juga harus menutup celah agar tidak mendapat perlakuan demikian dari anak buah. Anda merasa sudah seperti Donald Trump tapi di mata anak buah, Anda seperti Donald Bebek. Ini menunjukan, meskipun berhadapan dan saling bertatap muka tetapi sesungguhnya wibawa Anda sebagai atasan sudah hilang di hadapan anak buah. Bawahan menghadap Anda lebih karena keterpaksaan dan tidak memiliki pilihan lain disebabkan hierarki posisi mengharuskan dia mematuhi panggilan Anda. Kalau menurut ahli fashion atasan dan bawahan ini saling melengkapi. Pakai atasan tapi tidak pakai bawahan maka Anda akan menjadi pusat perhatian di keramaian, he he he.

Tidak ada salahnya Anda mulai berpikir untuk menjadi bos yang menyenangkan. Menjadi bos yang menyenangkan akan memberikan keuntungan buat Anda pribadi, bawahan dan perusahaan. Menjadi bos yang menyenangkan sama sekali bukan hal sulit. Kita hanya perlu mengetahui dan memahami hal yang ditakuti oleh bawahan terhadap atasannya. Secara garis besar ada dua hal yang ditakuti bawahan terhadap atasan, yaitu tugas yang diberikan dan respon terhadap tugas yang dikerjakan.

Berdasarkan dua hal ini, saya berikan tips sederhana tapi memiliki kekuatan besar yang bisa menjadikan Anda bos yang menyenangkan.

Pertama, memberikan tugas dengan pengertian. Kata ‘pengertian’ sering kita dengar sebagai syarat keharmonisan sebuah hubungan. Dalam konteks hubungan antara atasan dengan bawahan, pengertian ditampakkan saat seorang atasan memberi tugas pada bawahan. Pengertian disini bukan berarti atasan membatasi diri dalam memberikan tugas pada bawahan. Memberikan tugas dengan pengertian memiliki makna, ketika sebuah tugas yang diberikan berat maka saat memberikan tugas itu Anda sebagai atasan memperlihatkan empati. Hal ini menunjukkan pada bawahan bahwa Anda sebagai atasan juga memahami tugas yang diberikan memang berat. Saat memberikan tugas yang berat itu posisikanlah diri Anda sebagai bawahan.

Seringkali seorang atasan justru bersikap sebaliknya. Memberikan tugas yang berat tanpa beban. Seolah-olah bahwa bebannya sebagai atasan telah berpindah pada bawahannya sehingga selanjutnya bawahanlah yang harus memikirkan cara menanggung beban tugas tersebut. Dengan menunjukan pengertian dan rasa empati maka bawahan yang menerima tugas akan merasa tidak sendiri sehingga beban yang dipikulnya terasa ringan. Ini tentu menjadi semacam kekuatan baginya untuk bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.

Kedua, memberikan penilaian dengan energi positif Seringkali ketika memberikan penilaian terhadap kinerja bawahan, seorang atasan mengenyampingkan hal-hal positif yang ada pada bawahannya. Hal ini tentu menimbulkan rasa tidak puas bawahan terhadap atasan. Bawahan merasa diperlakukan tidak adil karena yang dilihat hanya kekurangannya saja. Memberikan penilaian dengan energi positif terletak pada cara Anda memilih kalimat. Anda bisa saja sedang mengkritik bawahan tetapi menggunakan kalimat bermakna positif yang sifatnya ‘encouragement’.

Contoh kalimat yang memberikan penilaian dengan energi positif adalah, “sayang sekali kalau kamu hanya mencapai target seperti ini padahal kamu pintar” atau “kamu terlalu cepat menyerah sehingga pekerjaanmu tidak maksimal, padahal saya tahu kamu punya kekuatan yang luar biasa untuk tetap semangat mencapai hasil yang luar biasa.” Dengan memberikan energi positif, bawahan akan lebih mudah menerima kesalahannya karena ia merasa bahwa di mata atasannya sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk bisa menghindari kesalahan-kesalahan tersebut.

Ketiga, memberikan apresiasi dengan tulus. Meskipun hasil yang dicapai bawahan dalam mengerjakan tugas yang Anda berikan belum memuaskan, namun tidak ada salahnya Anda memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan. Apresiasi ini tidak harus dalam bentuk reward berupa hadiah atau kenaikan gaji karena bawahan memang belum layak mendapatkannya. Apresiasi ini bisa dalam bentuk ucapan seperti “saya senang kamu sudah mengerjakan” atau “saya sangat menghargai dan berterima kasih jika kamu mau memperbaiki laporan ini.”

Menjadi bos yang tegas tidak harus selalu galak. Menjadi bos yang tegas dan berwibawa di depan anak buah bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Apabila Anda bisa tampil sebagai bos yang menyenangkan maka dampak positif yang bisa dirasakan adalah:

1.  Bawahan selalu dengan senang hati bertemu dengan bos. 

Bagi mereka dipanggil bos bukanlah sebuah beban atau hal yang menakutkan melainkan sebuah hal yang menyenangkan bahkan ditunggu-tunggu. Bawahan merasa bahwa setiap kali bertemu dengan bos mereka selalu mendapatkan hal yang baru. Bawahan menyadari bahwa untuk bisa menjadi seorang karyawan yang baik harus terus memperbaiki diri dan mau mendengarkan arahan yang diberikan atasan. Mereka akan menyimak kata demi kata yang disampaikan atasan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian pesan dan keinginan atasan terhadap tugas yang diberikan dapat ditangkap dengan baik sehingga akan menghasilkan hasil yang baik.

2.  Bawahan mengerjakan tugasnya dengan gembira

Tugas-tugas yang diberikan oleh bos akan segera dikerjakan oleh bawahan dengan gembira. Mereka yakin apapun hasil yang mereka berikan, atasan pasti memberi apresiasi terhadap tugas yang telah dilaksanakan. Mereka merasa menjadi bagian dari tim yang turut memiliki peran penting dalam pencapaian target perusahaan. Mereka memberikan kemampuan terbaik yang dimiliki. Selain itu bekerja dengan gembira akan melahirkan energi positif yang mendorong lahirnya ide dan gagasan cemerlang. 

Lebih dari semua itu, bawahan akan menceritakan bosnya yang baik kepada rekan kerja, kepada rekan pergaulan, kepada keluarga atau kepada saja yang membuat dia merasa bangga untuk menceritakan tentang bosnya yang baik. Semakin sering orang lain menceritakan hal yang baik tentang kita maka energi positif akan terus mengalir kepada diri kita sehingga kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan. Kebaikan kita pun selalu dikenang meskipun nanti kita telah tiada. Seperti pepatah mengatakan harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Sebaik-baiknya nama tentulah nama baik.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Luar Biasa edisi November 2014

Minggu, 08 Maret 2015

Anti Personal Branding

Kafi Kurnia punya istilah Anti Marketing. Tulisan Anti Personal Branding terinspirasi dengan meme yang mengolok-ngolok Haji Lulung pada awal Maret 2015 pasca gagalnya mediasi antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan anggota DPRD. Sudut pandang saya agak berbeda dengan pakar brand lainnya. Saya menilai meme yang beredar mengenai Haji Lulung malah memberikan dampak positif pada Haji Lulung. Sekurangnya ada 2 hal dampak positif tersebut.

1. Memperkuat positioning Haji Lulung sebagai orang yang ditakuti. Sebelum menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, Haji Lulung sudah dikenal sebagai penguasa Tanah Abang. Meme yang beredar justru sebagai bentuk pengakuan bahwa Haji Lulung pantas menjadi penguasa Tanah Abang.

2. Meme di beberapa media sosial dan trending topik di twitter #SaveHajiLulung membuat Haji Lulung semakin populer. Orang yang tadinya tidak tahu Haji Lulung jadi penasaran ingin mengetahui sosoknya lebih jauh. Bahkan kemudian banyak media massa yang menulis profil Haji Lulung. Bahkan saya pun ikut menulis tentang Haji Lulung, Wk wk wk

Ini mungkin perlu penelitian yang mendalam. Saya sendiri juga heran kenapa orang yang di bully di twitter hanya menjadi bahan lelucon sesaat namun tidak berdampak negatif terhadap citra orang tersebut. Coba diingat kembali, dulu Aceng Fikri juga ramai di cemooh di twitter tapi tetap bisa terpilih sebagai anggota DPR-RI periode 2014 - 2019. Bang Haji Rhoma Irama juga pernah diolok-olok di media sosial tapi hingga sekarang bisa tetap eksis berkarir.

Menurut saya inilah yang disebut dengan Anti Personal Branding.

Selasa, 24 Februari 2015

3 Alasan Mempertahankan Blog Gratis

Seringkali saya mendapat pertanyaan "mas Iwel kenapa kok masih pakai blog gratisan. Sekarang kan bikin website sangat murah?"

Sebenarnya saya sudah punya website berbayar yaitu www.iwelsastra.com. Ada tiga alasan saya mempertahankan blog gratisan baik http://iwelwel.blogspot.com maupun http://iwelsastra.blogspot.com.

1. Saya sudah memiliki blog ini semenjak harga untuk membuat website masih mahal.
2. Blog gratisan ini meskipun gratisan tetap  memiliki kelebihan seperti ramah google. Tetap memiliki potensi untuk berada di halaman pertama google.
3. Ini yang paling penting yaitu saya memotivasi orang untuk memiliki blog agar mereka bisa mencurahkan semua ide-ide mereka ke dalam tulisan yang bisa memberikan manfaat bagi pembaca. Tak perlu gengsi memiliki blog gratisan. Selain itu blog gratisan bisa langsung dibuat dan caranya sangat mudah. Minimal website berbayar tetap ada proses yang dilakukan seperti membeli domain, menyewa hosting dan terkadang template-nya masih rumit bagi pemula.

Bahkan untuk mereka yang terjun ke bisnis online dengan modal terbatas blog gratisan tetap bisa menjadi pilihan dalam menjual produk maupun jasa. Meskipun dengan uang 500 ribu sekarang sudah bisa punya website tapi dalam bisnis itu tetap harus diperhitungkan sebagai modal.  Daripada tidak punya etalase online sama sekali blog gratisan bisa jadi pilihan.

Nanti kalau sudah rajin ngeblog atau usaha rasanya menunjukan kemajuan tentu bisa ditingkatkan dengan memiliki website berbayar.

Rumput Tetangga



Sewaktu saya dan istri ingin membeli rumah, saya bilang kepada istri bahwa saya tidak ingin punya tetangga yang halaman rumahnya ditanami rumput. Istri heran dengan alasan saya yang dianggapnya agak aneh. Saya bilang padanya, itu disebabkan saya tidak mau memandang rumput tetangga setiap hari kemudian merasa rumput tetangga lebih hijau. Istri saya tertawa mendengar alasan tersebut. Sampailah kami di sebuah perumahan yang semua halaman rumahnya tidak ditanami rumput. Pihak pemasaran perumahan menunjukan kami sebuah rumah yang sudah selesai dibangun dan siap untuk dihuni. Istri saya suka dengan rumah tersebut namun saya tidak. Istri saya kaget kemudian tertawa mendengar alasan saya tidak suka rumah yang itu. “Rumput tetangga memang tidak terlihat lebih hijau tapi garasi tetangga terlihat lebih besar” ucap saya pada istri.

Peribahasa yang menyebutkan rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri, terdengar seperti sebuah lelucon tetapi sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Peribahasa ini memiliki arti bahwa orang suka memandang hal yang dimiliki orang lain lebih baik daripada yang dia punya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang suka terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang kadang secara tidak sadar sudah menempatkan dirinya pada posisi yang menderita. Misalnya, yang belum punya pasangan pikirannya jadi galau melihat sepasang suami istri yang jalan berduaan dengan mesra. Pria yang sudah punya pasangan pikirannya galau melihat laki-laki jomblo yang bebas jalan sendirian tanpa harus dikenakan wajib lapor pada istri. Perempuan yang sudah punya pasangan, pikirannya galau melihat perempuan jomblo yang bisa jalan-jalan dengan bebas di mal tanpa harus ditelepon setiap saat oleh pasangan yang posesif.

Dari contoh diatas terlihat bahwa lebih hijau atau tidaknya rumput tetangga tergantung dari sudut pandang kita. Kita menganggap rumput tetangga lebih hijau bisa jadi tetangga juga berpikir rumput kita lebih hijau. Setiap orang memiliki persepsi masing-masing dari apa yang dia lihat. Persepsi inilah yang kemudian mempengaruhi pikiran. Jika kebahagiaan orang lain kita pandang dengan cara yang menyedihkan maka pikiran kita akan terbawa sedih. Jika kebahagiaan orang lain kita pandang dengan cara turut bahagia maka pikiran kita akan bahagia. Ketika melihat rumput tetangga lebih hijau kita ikut senang melihatnya, maka kita sudah membangun sebuah persepsi yang positif ke dalam pikiran. Bukannya iri atau dengki  melihat rumput tetangga yang lebih hijau kita bisa menyikapinya dengan rasa ikut memiliki. Namun ingat, meski ada rasa ikut memiliki, bukan berarti kita bisa memotong rumput tetangga kapanpun kita mau.

Dari berbagai artikel kesehatan yang pernah saya baca disebutkan bahwa salah satu sumber penyakit adalah pikiran. Sementara itu, pikiran sebenarnya ada dibawah kendali manusia. Jadi manusia memiliki peran yang sangat besar dalam mengelola pikirannya. Apakah mau menjadi susah atau senang. Ada anekdot yang menggambarkan bahwa betapa besarnya kekuatan pikiran mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. Anekdot ini bercerita tentang seorang pasien yang berobat ke rumah sakit. Seandainya perkiraan biaya perawatan disampaikan di depan, pasien ini akan kepikiran sehingga penyakitnya menjadi lebih parah. Kalau biaya perawatan disampaikan ketika sudah sembuh, pasien ini kaget membaca jumlah tagihan rumah sakit, akhirnya kepikiran kemudian jatuh sakit lagi.

Kembali ke soal rumput tetangga. Belajar dari peribahasa ini, kita  bisa menemukan 3 formula sederhana untuk bisa menjadi manusia yang bahagia. Formula pertama, jangan pernah menilai rumput tetangga. Ini formula ekstrim khusus bagi mereka yang benar-benar tidak tahan untuk tidak membanding-bandingkan rumput tetangga dengan rumputnya sendiri. Apalagi kalau dia sendiri tidak punya rumput. Seharusnya rumput yang hijau terlihat indah dan menyenangkan bagi mata tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mata selalu sakit ketika keluar rumah dan melihat rumput tetangga. Kalau sudah begini, sebaiknya jangan pernah menoleh atau bahkan hanya sekadar melirik ke rumput tetangga. Jadi mata akan terhindar dari rasa sakit akibat melihat rumput tetangga.

Formula kedua, nikmati saja rumput tetangga yang hijau. Ini yang disebut dengan membangun persepsi positif terhadap hal yang dimiliki orang lain tetapi tidak atau belum kita miliki. “Wah senangnya mendengar teman naik jabatan. Semoga dalam waktu cepat saya tertular.” Atau “wah senangnya melihat teman beli mobil mewah, semoga saya bisa segera menyusul.” Tentu saja, dalam membangun persepsi positif seperti ini, kita juga harus melihat situasi dan kondisi diri. Jangan sampai Anda yang sudah menikah, ketika menerima undangan resepsi pernikahan berkata “wah senangnya mendengar teman mau menikah, semoga saya bisa menyusul.” Kalau istri dengar, bisa terjadi perang dunia ketiga. Maksud hati mau bahagia, yang ada malah bonyok, wk wk wk. 

Formula ketiga, jadikan rumput tetangga yang hijau menjadi motivasi kita untuk memiliki rumput yang bahkan lebih hijau lagi. Kita harus membangun persepsi yang super positif sehingga yang timbul di pikiran kita ketika melihat milik orang lain yang tidak atau belum kita miliki bukan rasa galau. Kita harus bisa meyakinkan diri bahwa kita pun bisa memiliki semua itu. Caranya, kita cari bibit rumput yang terbaik, menamamnya dengan cara yang benar dan merawatnya dengan sabar. Kita senang, bahagia menjalani proses karena kita yakin tak lama lagi kita akan memiliki rumput yang lebih hijau daripada rumput tetangga. 

Pelajaran yang bisa kita peroleh dari rumput tetangga adalah menjadi bahagia itu tergantung dari persepsi kita ketika memandang sesuatu. Ketika kita ikut bahagia melihat rumput tetangga yang semakin hijau, maka kita sudah sukses membahagiakan diri sendiri walaupun belum memiliki rumput.


Tulisan ini dimuat di Majalah Luar Biasa edisi April 2013

Sabtu, 27 Desember 2014

Kekuatan Silaturahim Untuk Sukses Berkarir

Berikut adalah certwit, alias cerita twit saya mengenai 'The Power of Silaturahim' dalam meningkatkan dan mempercepat sukses dalam berkarier. Twit kekuatan silaturahmi ini saya share melalui akun twitter pribadi saya @iwel_mc pada pertengahan September 2014.

Selepas SMP saya merantau ke Jakarta untuk mewujudkan impian menjadi seorang pelawak. Modal tekad karena waktu itu saya sama sekali tidak punya koneksi di dunia lawak.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah membangun silaturahim dengan para senior yang telah sukses di dunia lawak. Dulu belum ada sosial media, email bahkan sms. Untuk bisa membangun silaturahim maka saya mengunjungi rumah para senior, padahal tidak kenal.

Dari koran, saya ketahui ada 3 tempat berkumpul pelawak jaman itu ( tahun 1989 ). Rumah S Bagio, rumah Eddy Sud dan radio SK. Saya nekat mendatangi rumah S Bagio di kawasan Setia Budi, Kuningan. Pada kunjungan pertama dan kedua saya gagal bertemu karena beliau tidak ada di rumah.

Kunjungan ke 3 saya berhasil bertemu S Bagio yang kaget melihat remaja Padang kelas 1 SMA ke Jakarta ingin jadi pelawak. Melihat tekad saya yang bulat, S Bagio mengijinkan saya sering bertemu beliau dan menimba ilmu lawak dan panggung pada beliau. Saya pun akrab dengan pelawak-pelawak top yang sering kumpul di rumah S Bagio  seperti Yanto Stock On You, Prapto Mpek Mpek, Eko DJ, dan lain-lain.

Saat itu berkarier di dunia lawak harus punya grup. S Bagio menyarankan saya main ke Radio SK karena di sana banyak pelawak-pelawak muda. Di Radio SK saya bertemu Eko Seboel ( sekarang Patrio ). Kami pernah sama-sama jadi peserta lomba lawak RRI / TVRI tingkat nasional. Selain bertemu pelawak yang sedang merintis, di radio SK saya juga berkenalan dengan anggota grup lawak senior seperti Bagito dan Gideon ( kemudian pecah menjadi 4 Sekawan ).

Pertemuan dengan para senior dan ilmu yang mereka tularkan ini yang membuat saya kuat bertahan hingga sekarang di dunia komedi. Para senior seperti S Bagio, Ateng hingga Us Us yang menularkan ilmu lawaknya kepada saya, hingga akhir hayatnya tetap dikenang sebagai pelawak.

Mereka merintis dari bawah, besar di panggung, tahan banting dalam persingan serta memiliki tujuan yang kuat. Bukan sekadar iseng atau ikut trend. Ketika saya tertarik dengan Jerry Seinfeld tahun 1997 dan serius menekuni dunia stand up comedy tahun 1998, pola ini kembali saya gunakan.

Saat itu belum ada senior atau komedian lain yang nge-branding diri mereka sebagai stand up comedian. Hal ini membuat saya kesulitan mencari teman diskusi. Beberapa senior agak pesimis Stand Up Comedy bisa dikembangkan karena penikmat komedi sudah terlanjur menyukai komedi berkelompok.

Saya sering diskusi dengan Ateng di kediamannya di Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan. Beliau termasuk senior yang mendorong saya menekuni Stand Up Comedy. Selain itu, saya sering diskusi dengan rekan saya Diaz yang menyukai Stand Up Comedy ketika kuliah di Amerika. Diaz pula yang kasih saya VCD stand up comedy.

Tahun 2004 saya bertemu dengan beberapa orang yang tertarik Stand Up Comedy seperti Danny Septriadi (dannydarussalam.com) dan Dana Pandawa. Saya email 2 orang coach Stand Up Comedy terkenal di Amerika, Judy Carter dan Greg Dean. Pada mereka saya mengutarakan keinginan untuk belajar. Alhamdulillah email saya dibalas positif. Meskipun tak bertatap muka, saya senang bisa belajar langsung melalui email dengan mereka. Saya mempraktikkan yang saya pelajari dari para guru, wajar muncul nada sinis bilang saya comic yang 'text book' dan terlalu akademis.

Kemudian saya mendengar kalau di Comedy Cafe Ramon Papana di Kemang ada stand up comedy. Saya pun bersilaturahim kesana. Saya sudah kenal Ramon Papana sejak dia masih jadi DJ top di pertengahan tahun 90-an. Kemudian saya dengar kalau Ramon menekuni bisnis komedi.

Pertemuan dengan Ramon ini memunculkan ide untuk merekam stand up comedy di Comedy Cafe Kemang dan meng-upload ke youtube. Harus diakui Comedy Cafe Ramon Papana memiliki jasa dalam menggerakkan stand up comedy. Pandji dan Raditya Dika pun pernah tampil di sana.

Ketika saya tertarik menekuni dunia motivasi maka saya pun kembali melakukan silaturahim pada para senior. Saya bersilaturahim dengan senior yang sudah duluan menekuni dunia motivasi seperti Gede Prama, Tung Desem Waringin, Ippho Santosa, Jamil Azzaini dan lainnya.

Belajar langsung pada senior membuat kita lebih mengetahui secara dalam bidang yang kita tekuni terutama dari sisi bisnisnya. Saya menekuni dunia motivasi terinspirasi dari bukunya Judy Carter "The Message of You". Di Amerika banyak comic yang juga adalah seorang public speaker.

Selain itu secara bisnis, gaya komedi saya ini belum ramah rating dan share tv. Saya harus terus berkarya apapun medianya.

Saya tetap memberikan motivasi dengan gaya stand up comedy yang kemudian menjadi pembeda abadi saya dengan para motivator atau trainer lain.

Meskipun saat ini saya belum punya program rutin di tv hiburan, namun saya tetap menjaga hubungan silaturahim dengan tv tersebut. Apalagi sekarang teknologi sudah canggih, kita bisa bersilaturahim kapan saja dan dimana saja. Networking bukan sekadar menghasilkan uang, networking bisa menjadi sumber ilmu. Impian yang dituju dengan ilmu hasilnya dahsyat.

Untuk mencapai sukses, rajin-rajinlah silaturahim dengan orang yang telah mencapai sukses terlebih dahulu di bidang yang kita tekuni. Demikian certwit saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Selamat beraktifitas, sehat, bahagia dan sukses selalu.

Senin, 15 Desember 2014

Kesempatan Dalam Kesempatan 3

Di tulisan sebelumnya saya menceritakan perjalanan saya menggeluti profesi sebagai full time comedian dan situasi perubahan industri dunia hiburan yang sangat dinamis. Saya lanjutkan ya.

Setelah saya pelajari, salah satu panggung yg selalu hidup adalah panggung seminar motivasi yang tidak tergantung dengan tv. Jalur popularitas mayoritas pembicara seminar adalah menulis buku, bukan muncul di tv. Saya bisa ikuti jalur ini. Saya tidak mau sekadar jadi pembicara. Identitas komedian saya harus ikut serta maka saya buat Stand Up Motivasi.

Buku perdana saya Motivaction Mimpi Atau Mati merupakan buku motivasi ddengan gaya stand up comedy. Saya pun mulai rajin menulis artikel motivasi dan esai komedi di sejumlah media cetak dan online. Meskipun sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia komedi tapi di dunia motivasi saya adalah orang baru yang tentu ingin cepat jadi pembicara puncak.

Saya gunakan kembali pola lama saya ketika terjun ke dunia lawak. Saya belajar kepada motivator dan pembicara papan atas. Saya sungguh-sungguh dalam mempelajari konten dan menentukan faktor pembeda saya dengan pembicara top lain.

Memadukan stand up comedy & motivasi jadi pembeda, nilai jual serta keunikan saya. Alhamdulillah kesungguhan saya membuahkan hasil. Tahun ini saya sudah 2 kali tampil di event besar bersama pembicara papan atas Indonesia seperti Ippho Santosa, Bong Chandra dan Tung Desem Waringin.

Hal paling penting, meskipun saya sedang jarang muncul di tv namun panggung masih membuka ruang buat saya untuk berkomedi. TV tentu tidak boleh dilupakan. Bagaimanapun itu salah satu media untuk berkarya. Saya harus tetap membuat kesempatan di tv. Sahabat saya (alm) Uje pernah berpesan "lu harus tampil di acara yang menghibur, mendidik dan paling penting bermanfaat Wel".

Dalam pandangan ilmu motivasi, saya yakin segera dipertemukan dengan petinggi tv yang memiliki frekuensi yang sama dengan saya. Kesamaan dalam keinginan memproduksi dan menayangkan program komedi yang menghibur, mendidik dan bermanfaat. Saya yakin itu.

Tak disangka-sangka Allah SWT mempertemukan saya dengan orang itu walau kami belum pernah bertemu secara fisik. Kami sudah mulai diskusi. Saya terharu ternyata ada petinggi tv yang punya kegelisahan ingin melahirkan program menghibur namun mendidik dan bermanfaat. Semoga diskusi-diskusi tersebut bisa segera dieksekusi. Saya yakin jika bersungguh-sungguh dalam membuat kesempatan pasti ada kemudahan.

Sebelum membuat kesempatan kita harus tetapkan dulu tujuan kita dalam kesempatan tersebut. Misalnya, ingin meningkatkan karir, peluang bisnis, dan lain-lain. Kalau tadi saya bahas membuat kesempatan maka selanjutnya saya akan bahas tentang memberi kesempatan.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhariy, Rasulullah SAW bersabda “Berilah pancing dan  jangan hanya memberi ikan”. Pancing atau kail disini bisa berarti kesempatan. Memberi kesempatan dan membukakan jalan untuk orang lain berkarir dan mendapatkan penghasilan. Tentu saja sebaiknya yang diberi kesempatan adalah mereka yang bersungguh-sungguh sehingga kesempatan tersebut jadi bermakna.

Banyak yang datang ke saya minta untuk diberi kesempatan namun banyak juga yang gugur karena tidak sungguh-sungguh. Malas menjalani proses. Pernah saya lihat comic tidak lucu tapi terkesan dengan semangatnya yang kuat. Saya tawari dia untuk jadi asisten saya, supaya bisa belajar. Setelah jadi asisten saya, penampilannya di panggung menjadi semakin baik. Saya beri dia jam terbang untuk menguji materinya.

Sayangnya dia merasa cepat puas dan merasa sudah lucu. Tidak mau lagi belajar dan mendengar saran saya. Mulai jalan sendiri dengan pemikirannya. Saya pun melepas dia. Setelah tidak ikut saya karirnya malah mundur. Mau ikut saya lagi posisinya sudah diisi orang lain.

Ada yang kesulitan finansial datang. Saya lihat dia punya potensi untuk menulis, saya tawarkan kerjaan menulis skrip humor untuk radio. Dia menerima tawaran tersebut. Setelah berminggu-minggu saya tunggu tulisannya tak kunjung datang. Terlihat bahwa dia tidak bersungguh-sungguh.

Ada lagi yang datang ingin jadi motivator. Saya lihat syarat untuk jadi motivator belum dia miliki. Dia masih harus belajar banyak. Supaya bisa belajar saya tawarkan dia jadi crew di event motivasi besar. Dia bisa belajar sambil dapat uang. Dia menyanggupi. Hari H dia tidak datang. Ketika saya tanya jawabnya, lupa. Terlihat bahwa dia tidak bersungguh-sungguh.

Dari pengalaman saya bertemu dengan orang yang mencari kesempatan, banyak di antara mereka tidak punya strategi dalam mewujudkan mimpi. Tidak mau menjalani proses. Kalaupun menjalani proses, pilih yang enak-enak aja menurut mereka. Nggak mau susah.

Seperti yang sudah saya tulis dalam Teori Robin: Belajarlah pada Robin yang sangat senang diberi kesempatan membantu Batman. Saya senang memberikan kesempatan kepada yang membutuhkan. Butuh atau tidaknya seseorang akan sebuah kesempatan bisa terlihat dari kesungguhannya memanfaatkan kesempatan tersebut.

Dengan memberi kesempatan kepada orang lain sebenarnya kita sudah membuat kesempatan buat diri kita sendiri. Itulah kultwit mengenai kesempatan dalam kesempatan yg saya twit dalam kesempatan kali ini. Sampai jumpa di kesempatan lain.

Iwel Sastra
Pelopor Stand Up Comedy Indonesia
Stand Up Motivator No 1 Indonesia