Senin, 15 Desember 2014

Kesempatan Dalam Kesempatan 2

Event tahun 2010 sebelum Stand Up Booming tahun 2011
Di bagian pertama tulisan Kesempatan Dalam Kesempatan, saya menganjurkan agar kita memahami sisi bisnis dari apapun profesi yg kita pilih. Tentu contoh yang saya berikan sesuai dengan profesi saya sebagai komedian yang masuk sebagai profesi di dunia hiburan. Saya lanjutkan dulu ya di tulisan bagian 2 ini.

Di tahun 90-an saya mempelajari bisnis lawak dengan mempelajari 2 grup lawak papan atas: Warkop DKI & Bagito. Bagito tampil di TVRI dan siaran radio. Warkop rutin tampil di layar lebar. Penghasilan kedua grup ini juga banyak dari "off air". Menariknya, di "off air" Warkop sering jadi MC, begitu juga Bagito. Muncul pelawak Jimmy Gideon yang juga sering ngemsi.

Saya baca peluang bahwa MC pelawak memiliki nilai plus dibanding MC biasa. Nilai plusnya bisa melucu dan cairkan suasana. Salah satu cara membuat kesempatan menjadi MC pelawak adalah dgn menjadi penyiar radio. Saya coba buat kesempatan itu. Kalau saya siaran di radio SK maka saya akan tengelam oleh Bagito, 4 Sekawan dan pelawak lain yg lebih dulu populer di radio SK.

Kalau melamar ke Prambors, disana sudah ada 2 pelawak yg siaran : Krisna Purwana dan Jimmy Gideon. Sulit saya bisa diterima. Kemudian saya bidik radio DMC 1079 FM. Alasannya, DMC adalah radio baru. Pelawak populer yang siaran disana hanya Nana Krip. Kesempatan lebih terbuka. Setelah melewati proses panjang dan bersungguh-sungguh, tahun 1993 saya diterima jadi penyiar radio DMC. Jalan jadi MC terbuka. Menurut saya secara bisnis, profesi MC selalu dibutuhkan karena hampir tiap hari ada event yang membutuhkan MC.

Di akhir tahun 90-an saya lihat bisnis grup lawak akan suram. TV swasta mulai senang mencabut pelawak dari grup lawaknya. Ini pula yang membuat saya mulai menekuni Stand Up Comedy tahun 1998. Mulai mensosialisaikan dari kafe ke kafe. Era 2000-an bisnis grup lawak makin suram. Grup lawak terkenal pun personilnya mulai tampil sendiri-sendiri karena tv maunya begitu. Setelah Patrio & Cagur belum ada lagi grup lawak yang bisa populer. Kalau Bajaj menurut saya lebih eksis di sinetron, bukan lawak. Sule bersama grup lawak SOS pernah menjadi juara Audisi Pelawak TPI (API) setelah itu grupnya hilang, Sule berkibar sendiri.

Setelah gerilya selama 6 thn mensosialisasikan Stand Up Comedy, tahun 2004 saya bertekad membuat kesempatan. Jadilah tahun 2004 saya membuat pementasan pertama Stand Up Comedy Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta. Bahkan beberapa media seperti majalah Lisa dan majalah Gatra dalam liputannya menyebutkan saya Stand Up Comedian pertama di Indonesia. Begitu pula dengan majalah Reader's Digest yang kemudian mewawancarai saya pasca pementasan.

Sebelum pementasan tersebut, juga di tahun 2004, saya tampil stand up comedy selama 10 menit di hadapan Menkopolhukam SBY dalam sebuah acara peluncuran buku. Meskipun demikian secara bisnis Stand Up Comedy belum menjanjikan dibanding MC maupun penyanyi.

Setelah muncul di Bintang Bincang RCTI tahun 2005 mastarakat luas mulai mengenal saya tetapi belum paham bahwa yang saya bawakan adalah Stand Up Comedy. Tahun 2011 Stand Up Comedy booming karena tayang di Metro TV dan Kompas TV plus efek youtube.

Kecenderungan TV melahirkan bintangnya sendiri. KompasTV tidak terlalu menganggap saya sebagai comic dibanding pelawak senior. Diawal persiapan program Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) saya diajak diskusi, setelah itu tidak dilibatkan karena Kompas TV ingin tampilkan sosok yang lebih menjual. Itu hal biasa dala
m bisnis. MetroTV sejak awal melibatkan saya. Hanya masalah jadwal belakangan saya jarang tampil di Stand Up Comedy Metro TV.

Sekarang bermunculanlah comic dadakan. Ada yg benar-benar berbakat, ada modal nekat, ada yang atas paksaan neneknya. Dengan munculnya banyak comic maka persediaan melebihi permintaan. Ini berhubungan dengan honor. He he he. Masuk dalam "red ocean". Bagi yg belum paham "red ocean" silahkan google saja. Sederhananya, tidak bisa pasang harga tinggi karena konsumen banyak pilihan.

Situasi ini membuat saya harus berpikir kreatif untuk selalu membuat kesempatan karena berkomedi sudah menjadi pilihan hidup. Saya realistis untuk punya acara tv tidaklah mudah dengan pola komedi yang ada sekarang ini. Saya belum cocok dan tidak mau memaksakan diri. Namun saya ingat pesan (alm) S Bagyo "selama ada panggung maka disana kesempatan selalu terbuka" Saya harus cari panggung.

Iwel Sastra
Pelopor Stand Up Comedy Indonesia
Stand Up Motivator No 1 Indonesia