Senin, 02 November 2015

Saya Tidak Pernah Ngebomb

Dalam obrolan santai saya dengan Sammy, maksud saya benar-benar santai karena ngobrolnya sampe tiga jam lebih, saya bilang kalau saya merasa tidak pernah ngebomb selama jadi comic. Saya hanya pernah salah pakai strategi saat tampil.

Sammy, sahabat saya sesama comic yang juga mantan ketua StandUp Indo ini tidak sependapat dengan saya. "Kalo ngebomb ya ngebomb aja," katanya lugas.
Pendapat Sammy ini mengingatkan saya pada pendapat Steve Roye, seorang pelatih comic professional.
"No Matter what a comedian does in stage or their style in which they do it, bombing is bombing and killing is killing," begitu tulis Roye di website miliknya, www.realfirststeps.com

Sebelum lanjut soal ngebomb, saya mau berbagi kisah Maroon 5 dulu ya. Hari gini siapa yang ga kenal Maroon 5? Dimana pun Maroon 5 konser di belahan bumi ini pasti penontonnya ribuan dan konser mereka jaminan sukses.

Pada 9 Mei 2012, band pemenang Grammy Award ini dapat gigs di ballroom sebuah resort mewah di Las Vegas. Mereka menjadi band yang membuka sebuah acara amal bergengsi di Amerika. Keren? Pasti!

Tapi apa yang terjadi? Penampilan mereka disambut biasa saja. Ga ada penonton yang berjubel di depan panggung yang semangat ikut nyanyi. Ga ada teriakan histeris cewek-cewek manggil-manggil Adam Levine, vokalisnya yang seksi itu. Ga ada tepuk tangan membahana apalagi teriakan "we want more". Sepi, dingin, anyep.

Penonton yang ada saat itu hanya berusaha sopan dengan melihat ke arah panggung sambil senyum-senyum. Tidak sedikit penonton yang tetap sibuk dengan gadget masing-masing. Bahkan di antara penonton ada yang sambil bercanda dan berbisik, mereka harus googling dulu untuk tahu siapa sebenernya band yang sedang tampil.

Hampir menyerah menghadapi situasi ini, di panggung Adam Levine bercanda ke pemain drumnya yang sampai jadi lemas memainkan drum karena situasi yang kurang mengenakkan itu. Pada drummernya Levine bertanya, kemana nih cewek-cewek malam ini? Kemudian terdengar sedikit teriakan. Menanggapi teriakan itu Levine berkomentar, wah artinya memang lebih banyak cowok disini malam ini. Bukan rasio yang bagus kata Levine lagi sambil tertawa pahit.

Penonton di Las Vegas malam itu memang lebih banyak laki-laki. Rata-rata mereka berprofesi sebagai pengelola investasi global yang secara usia memang sudah matang kalau tidak mau dibilang tua. Sehari-hari mereka menganalisis situasi makro ekonomi, geo politik dan mengelola aset perusahaan dunia.

Kalau dalam istilah stand up comedy, apakah kita bisa menyebut Maroon 5 ngebomb? Kalau kita bilang Maroon 5 ngebomb, apakah itu artinya kita lantas bisa dengan segera mencap mereka sebagai band yang jelek dengan lagu-lagu yang jelek juga?

Sebagai seorang stand up comedian, apalagi kalau masih baru nyemplung jangan pernah mengatakan kalau kita ngebomb saat tidak berhasil bikin penonton tertawa. Jangan langsung memvonis diri sendiri bahwa kita ngebomb karena itu sama saja kita membunuh motivasi diri kita sendiri.

Saya sempat baca curahan hati beberapa teman comic baik di twitter atau di blognya yang merasa kariernya di stand up comedy hancur karena ngebomb. Bahkan sampe ada yang galau bimbang dilema apakah harus terus melakukan stand up atau sama sekali melupakan dan meninggalkan stand up comedy hanya gara-gara ngebomb.

Saat naik panggung dan menghadapi audience, setidaknya ada dua hal yang sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya penampilan kita. Pertama, selera penonton. Sayangnya, agak sulit jika kita berharap bisa mengubah selera penonton apalagi hanya dalam waktu sekejap penampilan kita. Selera sifatnya sangat subyektif dan personal. Kalau sudah begini, tips saya cuma satu. Tetap tenang, pakai kacamata kuda dan selesaikanlah gigs dengan total sampai akhir.

Kedua, seperti yang juga dihadapi Maroon 5 dalam cerita diatas, adalah soal referensi. Akan sangat sulit seorang comic melucu tentang suatu hal yang tidak diketahui oleh penontonnya. Di kasus Maroon 5 di atas, referensinya adalah maroon 5 sebagai artis dan lagu-lagu mereka. Dalam kasus stand up comedy, referensi juga mencakup materi.

Misalnya, saya sangat sering menggunakan gaya topikal yang mengandalkan berita di surat kabar atau media online sebagai set up. Bagaimana penonton bisa tertawa jika mereka tidak tahu berita yang saya bawakan. Ketidaktahuan ini tentu membuat penonton sulit memahami konteks dan letak lucu dari jokes yang saya bawakan. Referensi juga misalnya, saya membawakan jokes tentang peliknya kehidupan rumah tangga di depan para jomblo.

Ada jurus dasar dalam ilmu public speaking yang sering diremehkan. Namun dalam penampilan stand up, jurus ini harus dikuasai oleh seorang comic. Jurus ini adalah "know your audience". Oleh karena artikel ini sudah cukup panjang, di lain waktu saya akan mencoba membahas jurus ini di artikel lain. Jurus ini memang kesannya remeh tapi banyak yang bisa dikupas lebih dari sekadar mengetahui jenis kelamin dan pekerjaan penonton kita.

Saya sendiri belum berhasil "pecah" kalau audience saya anak alay. Padahal materi yang sama sudah saya uji coba di hadapan penonton mulai dari bapak-bapak pejabat, ibu-ibu sosialita, komunitas entrepreneur, profesional, karyawan, mahasiswa bahkan tukang parkir, satpam & petugas kebersihan yang menegur saya di berbagai situasi.

Kira-kira kalimat-kalimat semacam ini yang sering dilontarkan ke saya. "Wah saya suka sama lawakan bang iwel yang .... itu lucu banget tuh", "Bisa aje nih bang iwel ngelucunye", "Mas iwel deh, lucunya tajem", dalam hati saya berpikir... pisau kali ah tajem.

Kunci berhasil atau gagalnya penampilan seorang comic adalah memahami audience. Caranya? sepuluh ribu jam terbang di panggung yang beragam. open mic tiap minggu di tempat yang sama di depan teman-teman yang sama yang jangan-jangan tidak lebih paham stand up comedy dari kita sendiri, buat apa?

Untuk kasus tampil di depan anak alay akhirnya saya berpikir, mereka bukanlah market saya. Untuk segmen seperti ini materi yang biasanya dianggap lucu jika
menjelekan diri sendiri atau orang lain. Jadi saya tidak merasa perlu mengubah gaya stand up comedy saya yang sudah ajeg bentuknya.